021 - 39838014

Berlian Kalimantan (Sejarah & Karakteristik)

Kategori

 

Diamond Edition

Bagikan:

 

Kalimantan merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang terdapat deposit berlian. Secara etimologi, Kalimantan sendiri berasal dari kata “kali” yang berarti sungai, “ma” bermaksud mas, dan “ntan” berarti intan, sehingga Kalimantan sering diartikan sebagai sungai yang kaya akan emas dan berlian/intan. Hal ini selaras dengan beragam jenis hasil tambang yang ditemukan pada endapan aluvial di sekitar sungai Kalimantan. 

Berlian Kalimantan termasuk salah satu jenis berlian tertua (terkait eksplorasi) di dunia seperti India. Tambang berlian di Kalimantan memiliki sejarah panjang yang sudah dimulai sejak abad ke-6. Namun, hingga saat ini proses penambangan masih dilakukan secara tradisional dengan mengambil secara manual di sekitar sungai. Hal ini dikarenakan hasil studi eksplorasi pada 1985 menunjukkan deposit yang ditemukan walaupun bernilai secara ekonomi, tetapi tidak cukup besar untuk dapat dieksploitasi secara bisnis, sehingga sampai saat ini eksplorasi secara besar tidak pernah dilakukan. 

Berlian Kalimantan umumnya memiliki ukuran yang relatif kecil, meski pernah ditemukan dengan ukuran >100 ct (166,75 ct). Berlian Kalimantan sebagian besar memiliki kualitas batu mulia dengan beragam warna seperti biru, pink, kuning, cokelat, dan colourless. Colorless, cokelat pucat, dan kuning pucat merupakan warna yang paling sering ditemukan.

Berlian Kalimantan memiliki bentuk kristal (crystal habits) yang beragam, yaitu octahedron, tetrahexahedron, flatted tetrahexahedron, rounded tetrahexahedron, dodecahedron, dan macle. Berlian ini umumnya memiliki struktur internal yang homogen atau zonasi oktahedral. Terkadang ditemukan inklusi grafit dalam zonasi oktahedral yang ditafsirkan sebagai inti/pusat berlian. Inklusi grafit sering ditemukan pada berlian yang berasal dari kimberlite. Namun, di Kalimantan kimberlite  belum pernah ditemukan, hal ini dimungkinkan oleh karena tidak adanya eksplorasi dalam skala besar.

Pada permukaan Berlian Kalimantan biasanya ditemukan fitur/tekstur berupa percussion scars, radioactivity generated spots, plastic deformation, dan fitur lainnya. Fitur percussion scar pada berlian menunjukkan proses yang mengenai berlian seperti reworking, reburial, dan redeposisional. Selain itu, fitur ini juga menunjukkan proses transportasi berlian yang terbawa ke permukaan melalui magma. Fitur radioactive spot menunjukkan bahwa berlian tersebut mengalami kontak dengan fluida radioaktif pada batuan porous yang berasosiasi dengan berlian. Umumnya fitur ini berwarna hijau, tetapi akan berubah menjadi cokelat ketika mendapatkan temperature tinggi. Fitur plastic deformation dapat berupa shield-shape lamina, lamination line, dan cross-hatched laminations. Fitur ini menunjukkan bahwa berlian mengalami deformasi plastis. (Plastic deformation dikenal sebagai sebuah proses yang dapat menghasilkan berlian warna pink), hal ini selaras dengan berlian warna pink yang diyakini ditemukan di Kalimantan.

Ketika dilakukan uji cathodoluminescence Berlian Kalimantan akan menghasilkan warna hijau, biru, kuning dengan inti biru, biru dengan inti kuning, pita berwarna kuning dan biru, serta terkadang ditemukan bercak berwarna biru dan kuning. Reaksi/Warna biru hingga biru tua yang terbentuk menunjukkan bahwa berlian mengandung Nitrogen (tipe I). Hanya berlian bertipe I (memiliki kandungan Nitrogen) yang akan bereaksi ketika dilakukan uji cathodoluminescence, sedangkan berlian tipe II tidak akan bereaksi. Warna kuning hingga kuning kecoklatan yang terlihat diakibatkan oleh kandungan atom nitrogen. Selain itu, dapat ditemukan juga warna hijau ketika berlian telah mengalami deformasi plastis. 


 

Refrensi:

Kadarusman, A., & Tbk, P. I. (2010). The origin of Borneo (Kalimantan) diamond: A summary. In Proceedings PIT IAGI Lombok. The 39th IAGI Annual Convention.

Kueter, N., Soesilo, J., Fedortchouk, Y., Nestola, F., Belluco, L., Troch, J., ... & Driesner, T. (2016). Tracing the depositional history of Kalimantan diamonds by zircon provenance and diamond morphology studies. Lithos, 265, 159-176.

Smith, C. B., Bulanova, G. P., Kohn, S. C., Milledge, H. J., Hall, A. E., Griffin, B. J., & Pearson, D. G. (2009). Nature and genesis of Kalimantan diamonds. Lithos, 112, 822-832.

Spencer, L. K., David , S., Peter, C., & Robert, E. (1988). The Diamond Deposits of Kalimantan, Borneo. 

Sun, T. T., Wathanakul, P., Atichat, W., Moh, L. H., Kern, L. K., & Hermanto, R. KALIMANTAN DIAMOND.


Artikel Lainnya


Eksploitasi Logam Mulia dan Batu Mulia

Eksploitasi tambang adalah proses pengambilan sumber daya mineral dari bumi, seperti batu mulia dan logam mulia dengan tujuan komersial. Proses ini melibatkan penggalian, pengolahan awal, dan pemurnian bahan mentah sebelum diolah lebih lanjut untuk kebutuhan industri, pembuatan perhiasan, maupun kegiatan lainnya.  Eksploitasi tambang seringkali melibatkan penggunaan teknologi dan peralatan serta metode yang canggih, tetapi tidak jarang juga eksploitasi ini dilakukan menggunakan metode dan alat yang konvensional oleh masyarakat setempat. Pada minggu ini kita akan membahas kedua metode eksploitasi tersebut. Yuk, disimak lebih lanjut!   Tambang Konvensional   Tambang konvensional mengacu pada metode penambangan yang telah lama digunakan dan umumnya menerapkan teknik dan proses yang tradisional  dan sederhana. Ini termasuk teknik penambangan seperti tambang terbuka dan tambang bawah tanah yang menggunakan peralatan dan teknologi yang sudah ada dan terbukti efektif. Tambang konvensional mengikuti cara kerja yang telah digunakan dalam industri pertambangan selama bertahun-tahun.  Sistem ini telah ada sejak abad ke-19 dan belum mengalami banyak perkembangan modern. Ciri-ciri tambang konvensional antara lain penggunaan peralatan yang kurang efisien, kinerja yang belum maksimal, risiko kecelakaan yang tinggi, konsumsi bahan bakar yang boros, pemulihan penambangan yang tidak optimal, biaya yang tinggi, dan belum ramah lingkungan.   Contoh tambang konvensional yang dapat kita temukan antara lain:   Tambang berlian placer Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru Bagi yang tidak asing dengan berlian yang dijual di Martapura, berlian tersebut umumnya berasal dari tanah intan di Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru. Masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan menambang berlian melalui metode pendulangan tradisional.   Tambang emas rakyat bawah tanah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri   Dari yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak sekali potensi mineral logam mulia, khususnya emas. Salah satunya yang terdapat di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, sumber daya emas tersebut dimanfaatkan oleh warga setempat dengan membuat lubang tambang tradisional dengan peralatan yang masih sangat sederhana.    Selain dengan metode konvensional yang masih sangat sederhana terdapat juga tambang batu mulia dan logam mulia yang menggunakan metode inisiatif yang modern.     Tambang Inisiatif (Inovatif)   Tambang inovatif atau inisiatif merupakan pendekatan yang lebih modern dalam industri pertambangan, fokusnya adalah pada pengembangan dan implementasi teknologi, proses, dan praktik baru. Ini bisa mencakup penggunaan teknologi canggih seperti penambangan otomatis, pemetaan tambang dengan drone, atau pemantauan lingkungan dengan sensor teknologi tinggi. Tujuan dari tambang inisiatif adalah meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan keselamatan kerja. Proses perbaikan terus menerus dilakukan untuk menciptakan sistem pertambangan yang lebih efisien dan efektif. Tambang inisiatif menunjukkan perbedaan yang signifikan terutama dalam hal efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan tambang. Ini seringkali disebut sebagai kemajuan tambang inisiatif. Beberapa ciri tambang inisiatif meliputi: Kolaborasi antara manusia dan teknologi. Sistem manajemen pengawasan yang lebih terintegrasi. Penggunaan sensor yang terintegrasi dan akurat pada setiap tahapan kegiatan. Penggunaan perangkat terkini dan teknologi otomatisasi.   Contoh tambang inisiatif yaitu:   Tambang Grasberg di Kabupaten Mimika, Papua Tengah oleh PT Freeport Indonesia Penambangan bijih di PT Freeport Indonesia (PTFI) meliputi kegiatan pengeboran dan peledakan, pengisian dan pengangkutan muatan, serta penghancuran. Setiap tahapan tersebut dilakukan menggunakan peralatan dan metode yang sudah modern dan memperhatikan keselamatan kerja. Tambang PT Freeport Indonesia memiliki 2 jenis tambang, yaitu open pit dan closed pit.  Proses eksploitasi di dalam PTFI dilakukan dengan cara modern menggunakan komputer dan pengendalian mesin (pengangkutan, pengeboran, dll) dengan jarak jauh seperti yang ada pada gambar di atas. Dalam upaya menjaga lingkungan dan memanfaatkan limbah sisa eksploitasi, PTFI melakukan program 3R (Reduce-Reuse and Recycle), contohnya: Reklamasi area pemisahan material bijih (tailing). Pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas untuk digunakan pada beberapa kendaraan ringan.  Memanfaatkan oli bekas sebagai campuran bahan bakar alternatif di Pabrik Kapur dan Pabrik Pengering Konsentrat. Daur ulang aluminium untuk dijadikan souvenir. Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Memanfaatkan abu dari unit boiler pada sarana pembangkit listrik untuk keperluan proyek infill di daerah operasi PTFI.     Sumber:     Admindisporabudpar, (2017). Visit Banjarbaru – Pendulangan intan tradisional cempaka. https://disporabudpar.banjarbarukota.go.id/pendulangan-intan-tradisional/ diakses pada 21 Mei 2024 Anonim. (n.d.). Bagaimana Kami Beroperasi. PT Freeport Indonesia.  https://ptfi.co.id/id/how-we-operate  Anonim. (2022). Kontribusi Freeport Bagi Bumi Pertiwi. PT Freeport Indonesia. https://ptfi.co.id/id/news/ Chen, Jin & Viardot, Eric & Brem, Alexander. (2019). Innovation and innovation management. 10.4324/9781315276670-1. Hoover, H. (1909). Principles of mining: valuation, organization and administration; copper, gold, lead, silver, tin and zinc (Vol. 2). Hill Publishing Company. Minir. (2021). Perbedaan tambang konvensional Dan Tambang initiative. anakteknik.co.id

Eksplorasi Logam Mulia dan Batu Mulia

Eksplorasi adalah penjelajahan lapangan yang bertujuan memperoleh informasi terkait kondisi geologi untuk menemukan dan memperkirakan keterdapatan sumber daya alam di bumi, salah satunya adalah logam mulia dan batu mulia. Eksplorasi endapan batu mulia dan logam mulia dapat dilakukan dengan metode pemetaan permukaan (pemetaan geologi), prospeksi geokimia, dan geofisika.   Eksplorasi menggunakan metode pemetaan permukaan Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan karakteristik batu mulia dan logam mulia di suatu daerah penelitian serta memetakan geologi regional yang terkait. Pemetaan geologi merupakan proses yang kompleks dan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan representasi visual yang akurat dari formasi geologi di suatu daerah tertentu. Salah satu teknik yang digunakan dalam pemetaan geologi adalah dengan membuat lintasan geologi. Lintasan ini dirancang untuk mencatat dan memetakan lokasi-lokasi penting seperti singkapan batu mulia ataupun logam mulia dan gejala-gejala geologi lainnya dengan presisi tinggi.  Biasanya, lintasan geologi dibuat secara sistematis, seringkali tegak lurus atau memotong arah umum dari struktur geologi batuan. Tim lapangan akan mengumpulkan data geologi melalui pengukuran dan observasi langsung di lapangan. Data-data ini kemudian diolah menggunakan metode pemetaan geologi yang terspesialisasi, dan hasilnya dipetakan ke dalam peta dasar.  Proses pengolahan data melibatkan korelasi dari masing-masing titik pengamatan berdasarkan kesamaan litologi. Ini berarti bahwa batuan yang ditemukan di berbagai titik akan dianalisis untuk menentukan karakteristik litologinya. Dengan cara ini, informasi yang dikumpulkan dari lapangan dapat digunakan untuk menghasilkan peta geologi yang lebih mendalam dan berbasis pada distribusi batu mulia ataupun logam mulia dan struktur geologi lainnya di daerah tersebut.   Eksplorasi menggunakan metode geokimia Metode geokimia dapat diaplikasikan ke dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia dengan pengambilan serta pengujian sampel tanah dan batuan dari lapangan daerah penelitian. Terdapat beberapa metode geokimia yang bisa kita aplikasikan, antara lain: 1. Stream Sediment Sampling  Metode ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel sedimen pada sungai atau aliran air lainnya untuk mengidentifikasi keberadaan kumpulan mineral maupun bijih logam yang telah ter-transport dari batuan asal.  2. Soil Sampling  Proses pengumpulan sampel dari tanah untuk menentukan susunan mineral dan menyimpulkan potensi mineralisasi pada batuan dasar yang ada di bawah permukaan dimana batuan dasar ditutupi oleh tanah. Metode pengambilan sampel tanah menggunakan alat bor auger dan sekop untuk mengumpulkan sampel dalam pola sistematis.  3. Metode Analisis Micro X-ray Fluorescence (µXRF) Metode yang dilakukan untuk mengetahui sebaran dan kelimpahan unsur dalam sampel batuan atau tanah dalam keadaan vakum yang kemudian dapat diketahui nama mineralnya berdasarkan karakteristik ikatan kimianya. Metode ini dapat digunakan untuk mengecek mineral khas dalam sedimen (contohnya chromium-pyrope, chromium-diopside, magnesium-ilmenite, dan olivine) yang berasosiasi dengan batuan asal batu mulia. 4. Metode Analisis X-ray Fluorescence (XRF)  Teknik analisis yang memanfaatkan emisi karakteristik sinar-X untuk menentukan komposisi unsur-unsur kimia pada sample batuan. Dalam metode ini, sample akan dipreparasi terlebih dahulu agar dapat dianalisis seperti harus dihancurkan dan ditumbuhkan hingga menjadi berbutir halus. Jika memperoleh hasil kandungan Na lebih tinggi daripada Li, K, Be, Mo pada batuan yang belum terubah, maka menunjukan keberadaan mineralisasi emerald.     Eksplorasi menggunakan metode geofisika Metode geofisika penting dilakukan dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia, karena dengan metode ini akan memberikan gambaran terkait keadaan geologi serta persebaran batu mulia dan logam mulia jauh di bawah permukaan bumi. Terdapat beberapa metode geofisika yang bisa kita aplikasikan, antara lain: 1. Gravity Survey  Metode yang memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk memetakan kepadatan bawah permukaan. Batu mulia memiliki kepadatan/berat jenis yang berbeda dengan batuan sekitarnya sehingga tingkat gravitasinya pun berbeda juga dan menghasilkan persebaran perbedaan tingkat kepadatan/berat jenis serta struktur bawah permukaan. 2. Magnetic Survey  Pengukuran medan magnet Bumi di atas tanah atau di udara untuk mendeteksi kekuatan magnetik yang terkait dengan batuan dan mineral. Dimana yang dapat kita ketahui beberapa batu mulia berasosiasi dengan mineral logam sehingga dapat mengetahui persebaran tingkat magnetisme. 3. Electrical Survey  Pengukuran sifat konduktivitas listrik batuan dan mineral. Batu mulia tertentu memiliki konduktivitas listrik yang berbeda dari batuan sekitarnya, sehingga metode ini dapat menghasilkan data aliran fluida atau keberadaan mineral logam yang dapat menghantarkan listrik. 4. Seismic Reflection Profiling Survey  Memanfaatkan gelombang seismik yang dipancarkan ke bawah permukaan bumi dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan batas lapisan batuan atau fenomena struktur dengan impedansi akustik yang berbeda. Waktu tempuh dan lokasi pantulan gelombang seismik diukur dan dianalisis untuk menentukan fitur geologi bawah permukaan. 5. Ground Penetrating Radar Survey  Menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi untuk menyelidiki struktur bawah permukaan. Gelombang radar ditembakkan ke bawah permukaan dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan lapisan batuan dengan konduktivitas listrik yang berbeda. Jarak pemancaran sinyal radar bergantung pada sifat serap batuan yang dilaluinya. Semakin tinggi konduktif listrik suatu material, semakin besar pula penyerapan sinyal radar. Ketika sinyal radar mengenai batas antara bahan non konduktif dan konduktif, maka energi elektromagnetik dapat dipantulkan.   Contoh eksplorasi batu mulia berlian (diamond) Dalam mengeksplorasi keterdapatan berlian kita harus mengetahui keberadaan batuan kimberlite dan lamproite pada litosfer yang lebih tebal daripada biasanya. Keterdapatan endapan berlian dapat terbentuk pada batuan dari ikatan karbon dengan tekanan yang setara pada kedalaman 150–200 km sehingga memiliki kompaksi yang lebih tinggi. Karena batuan di bagian mantel litosfer (di bawah kerak bumi, di atas astenosfer) biasanya lebih padat dan kaku maka gelombang seismik dapat cepat merambat dibandingkan batuan di dekatnya yang berada di astenosfer (bersifat cair). Daerah dengan kepadatan tinggi diinterpretasikan sebagai akar litosfer. Setelah akar litosfer ditemukan, data magnetik dan listrik dengan resolusi lebih tinggi memungkinkan dapat mengidentifikasi anomali yang terkait dengan batuan kimberlite dan lamproite. Kimberlite dan lamproite memiliki konsentrasi besi dan magnesium yang tinggi daripada batuan sekitarnya, sehingga seringkali bersifat lebih magnetis dan lebih konduktif dibandingkan batuan yang di sekitarnya. Oleh karena itu, untuk mencari karakteristik tersebut dapat dideteksi dengan metode seismic-wave velocity, gravity dan electrical survey.   Sumber: Ahmadi, O., Juhlin, C., Ask, M., & Lund, B. (2015, June 3). Revealing the deeper structure of the end-glacial pärvie fault system in northern Sweden by seismic reflection profiling. Solid Earth. https://doi.org/10.5194/se-6-621-2015 Annual Kīlauea Gravity Survey | U.S. Geological Survey. (2024). https://www.usgs.gov/media/images/march-25-2024-annual-kilauea-gravity-survey-2 Cook, F. A. (n.d.). Applications of geophysics in gemstone exploration. Gems & Gemology. https://www.gia.edu/gems-gemology/spring-1997-geology-techniques-cook Falah, Muh & Tabbu, Muhammad. (2023). EKSPLORASI BATU MULIA DENGAN METODE PEMETAAN GEOLOGI DAERAH TUWUNG BARRU. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Geography. 8-17. 10.61220/ijfag.v1i1.202302.  Fletcher, W. K., et al. (1986). DESIGN AND INTERPRETATION OF SOIL SURVEYS. Exploration Geochemistry, 39–77. https://doi.org/10.5382/rev.03.03 Groat, L. A., & Laurs, B. M. (2009). Gem Formation, production, and exploration: Why gem deposits are rare and what is being done to find them. Elements, 5(3), 153–158. https://doi.org/10.2113/gselements.5.3.153 Ground penetrating radar surveys. Orsco (Pty) Ltd. (2024, January 16). https://orsco.co.za/ground-penetrating-radar-surveys/ Inc, S. by O. C. (2021, May 3). Methods - electrical resistivity: GeoScan: British Columbia. GeoScan. https://www.geoscan.ca/methods/electrical-resistance/ Rock characterization for mineral exploration. Bruker. (n.d.). https://www.bruker.com/en/applications/minerals-mining-and-petrochemical/minerals-exploration-discovery/rock-characterization-for-mineral-exploration.html Soil sampling near a uranium mine site in Arizona. Soil sampling near a uranium mine site in Arizona | U.S. Geological Survey. (2016). https://www.usgs.gov/media/images/soil-sampling-near-uranium-mine-site-arizona-0 Stream sediments. (n.d.). https://www.gsi.ie/en-ie/programmes-and-projects/minerals/activities/mineral-exploration/Pages/Stream-Sediments.aspx X-ray fluorescence spectrometry (XRF). X-ray Fluorescence Spectrometry (XRF) | School of Earth Sciences. (n.d.). https://earthsciences.osu.edu/about/facilities/equipment/xrf