021 - 39838014

Eksploitasi Logam Mulia dan Batu Mulia

<p>Eksploitasi tambang adalah proses pengambilan sumber daya mineral dari bumi, seperti batu mulia dan logam mulia dengan tujuan komersial. Proses ini melibatkan penggalian, pengolahan awal, dan pemurnian bahan mentah sebelum diolah lebih lanjut untuk kebutuhan industri, pembuatan perhiasan, maupun kegiatan lainnya.&nbsp;</p> <p>Eksploitasi tambang seringkali melibatkan penggunaan teknologi dan peralatan serta metode yang canggih, tetapi tidak jarang juga eksploitasi ini dilakukan menggunakan metode dan alat yang konvensional oleh masyarakat setempat. Pada minggu ini kita akan membahas kedua metode eksploitasi tersebut. Yuk, disimak lebih lanjut!</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tambang Konvensional</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Tambang konvensional mengacu pada metode penambangan yang telah lama digunakan dan umumnya menerapkan teknik dan proses yang tradisional&nbsp; dan sederhana. Ini termasuk teknik penambangan seperti tambang terbuka dan tambang bawah tanah yang menggunakan peralatan dan teknologi yang sudah ada dan terbukti efektif. Tambang konvensional mengikuti cara kerja yang telah digunakan dalam industri pertambangan selama bertahun-tahun.&nbsp;</p> <p>Sistem ini telah ada sejak abad ke-19 dan belum mengalami banyak perkembangan modern. Ciri-ciri tambang konvensional antara lain penggunaan peralatan yang kurang efisien, kinerja yang belum maksimal, risiko kecelakaan yang tinggi, konsumsi bahan bakar yang boros, pemulihan penambangan yang tidak optimal, biaya yang tinggi, dan belum ramah lingkungan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Contoh tambang konvensional yang dapat kita temukan antara lain:</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tambang berlian placer Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/ePFNiSm2z9SlPkaZ3e5QXSwlnTXdUq_AHraTS4TVf2oimnOP4rhoXCblSifHd7MlLcHLRW3X2hFiePFV_xVpyDa-fq8EZn9PSJ_dKma2L7zvv9s0R1NmXSvFNhHq-phIxWJ8D5pfSS-yRtSiZEXF2Ik" style="height:276px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:415px" /></p> <p>Bagi yang tidak asing dengan berlian yang dijual di Martapura, berlian tersebut umumnya berasal dari tanah intan di Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru. Masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan menambang berlian melalui metode pendulangan tradisional.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tambang emas rakyat bawah tanah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri</p> <p>&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/cGhGL_z4TC6GA8NMb_SrChr7Tou3G5dtlrtchjDn_gfOXlnHP9Ft7aB3-FSfduhHOMQ2DHBdlsk3SOjxj8BZKf7j6vydIBlVzNtoBhH9Iqmj3GseSGxaojiw2Tnmd3y7lThbBmdl8n61VZiTQSVf8Es" style="height:249px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:374px" /></p> <p>Dari yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak sekali potensi mineral logam mulia, khususnya emas. Salah satunya yang terdapat di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, sumber daya emas tersebut dimanfaatkan oleh warga setempat dengan membuat lubang tambang tradisional dengan peralatan yang masih sangat sederhana.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain dengan metode konvensional yang masih sangat sederhana terdapat juga tambang batu mulia dan logam mulia yang menggunakan metode inisiatif yang modern.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Tambang Inisiatif (Inovatif)</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Tambang inovatif atau inisiatif merupakan pendekatan yang lebih modern dalam industri pertambangan, fokusnya adalah pada pengembangan dan implementasi teknologi, proses, dan praktik baru. Ini bisa mencakup penggunaan teknologi canggih seperti penambangan otomatis, pemetaan tambang dengan drone, atau pemantauan lingkungan dengan sensor teknologi tinggi. Tujuan dari tambang inisiatif adalah meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan keselamatan kerja.</p> <p>Proses perbaikan terus menerus dilakukan untuk menciptakan sistem pertambangan yang lebih efisien dan efektif. Tambang inisiatif menunjukkan perbedaan yang signifikan terutama dalam hal efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan tambang. Ini seringkali disebut sebagai kemajuan tambang inisiatif.</p> <p>Beberapa ciri tambang inisiatif meliputi:</p> <ul> <li> <p>Kolaborasi antara manusia dan teknologi.</p> </li> <li> <p>Sistem manajemen pengawasan yang lebih terintegrasi.</p> </li> <li> <p>Penggunaan sensor yang terintegrasi dan akurat pada setiap tahapan kegiatan.</p> </li> <li> <p>Penggunaan perangkat terkini dan teknologi otomatisasi.</p> </li> </ul> <p>&nbsp;</p> <p>Contoh tambang inisiatif yaitu:</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tambang Grasberg di Kabupaten Mimika, Papua Tengah oleh PT Freeport Indonesia</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/2U4TsaZyuM1gAknC0gX-Hdn94epoDzDQhyt-1euLhL4xZWe3n5-ik1fqhXP8FmeS0FcVvu85DUjfIOpw8QZCwhRoYj6SZTcCvLzCCSykpLveeyS_3z7HqI_X5Np73_-UMX-Bwr-NhtvobjjLmBSqFI0" style="height:259px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:387px" /></p> <p>Penambangan bijih di PT Freeport Indonesia (PTFI) meliputi kegiatan pengeboran dan peledakan, pengisian dan pengangkutan muatan, serta penghancuran. Setiap tahapan tersebut dilakukan menggunakan peralatan dan metode yang sudah modern dan memperhatikan keselamatan kerja. Tambang PT Freeport Indonesia memiliki 2 jenis tambang, yaitu <em>open pit</em> dan <em>closed pit.&nbsp;</em></p> <p><em><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/rTcpG3LxtrjEI3zhBszlojNvvxuHr3rboYdvs_0KkuHEvZIB9bWx3rJz2cV2kc1KPlCs_d3RkEyesyBW3exBE1mYIuVcOr_hJ6btM-t88XXzZAZLWWIErJGde-t5iCkVJ3skEQSwx3N1rLghWGG6v2c" style="height:260px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:390px" /></em></p> <p>Proses eksploitasi di dalam PTFI dilakukan dengan cara modern menggunakan komputer dan pengendalian mesin (pengangkutan, pengeboran, dll) dengan jarak jauh seperti yang ada pada gambar di atas.</p> <p>Dalam upaya menjaga lingkungan dan memanfaatkan limbah sisa eksploitasi, PTFI melakukan program 3R (Reduce-Reuse and Recycle), contohnya:</p> <ol> <li> <p>Reklamasi area pemisahan material bijih (<em>tailing</em>)<em>.</em></p> </li> <li> <p>Pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas untuk digunakan pada beberapa kendaraan ringan.&nbsp;</p> </li> <li> <p>Memanfaatkan oli bekas sebagai campuran bahan bakar alternatif di Pabrik Kapur dan Pabrik Pengering Konsentrat.</p> </li> <li> <p>Daur ulang aluminium untuk dijadikan souvenir.</p> </li> <li> <p>Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).</p> </li> <li> <p>Memanfaatkan abu dari unit boiler pada sarana pembangkit listrik untuk keperluan proyek infill di daerah operasi PTFI.</p> </li> </ol> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sumber:</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Admindisporabudpar, (2017). Visit Banjarbaru &ndash; Pendulangan intan tradisional cempaka. <a href="https://disporabudpar.banjarbarukota.go.id/pendulangan-intan-tradisional/">https://disporabudpar.banjarbarukota.go.id/pendulangan-intan-tradisional/</a> diakses pada 21 Mei 2024</p> <p>Anonim. (n.d.). <em>Bagaimana Kami Beroperasi</em>. PT Freeport Indonesia.&nbsp; https://ptfi.co.id/id/how-we-operate&nbsp;</p> <p>Anonim. (2022). Kontribusi Freeport Bagi Bumi Pertiwi. PT Freeport Indonesia. <a href="https://ptfi.co.id/id/news/">https://ptfi.co.id/id/news/</a></p> <p>Chen, Jin &amp; Viardot, Eric &amp; Brem, Alexander. (2019). Innovation and innovation management. 10.4324/9781315276670-1.</p> <p>Hoover, H. (1909). <em>Principles of mining: valuation, organization and administration; copper, gold, lead, silver, tin and zinc</em> (Vol. 2). Hill Publishing Company.</p> <p>Minir. (2021). <em>Perbedaan tambang konvensional Dan Tambang initiative</em>. anakteknik.co.id</p>

Eksplorasi Logam Mulia dan Batu Mulia

<p>Eksplorasi adalah penjelajahan lapangan yang bertujuan memperoleh informasi terkait kondisi geologi untuk menemukan dan memperkirakan keterdapatan sumber daya alam di bumi, salah satunya adalah logam mulia dan batu mulia. Eksplorasi endapan batu mulia dan logam mulia dapat dilakukan dengan metode pemetaan permukaan (pemetaan geologi), prospeksi geokimia, dan geofisika.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Eksplorasi menggunakan metode pemetaan permukaan</strong></p> <p>Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan karakteristik batu mulia dan logam mulia di suatu daerah penelitian serta memetakan geologi regional yang terkait.<strong> </strong>Pemetaan geologi merupakan proses yang kompleks dan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan representasi visual yang akurat dari formasi geologi di suatu daerah tertentu. Salah satu teknik yang digunakan dalam pemetaan geologi adalah dengan membuat lintasan geologi. Lintasan ini dirancang untuk mencatat dan memetakan lokasi-lokasi penting seperti singkapan batu mulia ataupun logam mulia dan gejala-gejala geologi lainnya dengan presisi tinggi.&nbsp;</p> <p>Biasanya, lintasan geologi dibuat secara sistematis, seringkali tegak lurus atau memotong arah umum dari struktur geologi batuan. Tim lapangan akan mengumpulkan data geologi melalui pengukuran dan observasi langsung di lapangan. Data-data ini kemudian diolah menggunakan metode pemetaan geologi yang terspesialisasi, dan hasilnya dipetakan ke dalam peta dasar.&nbsp;</p> <p>Proses pengolahan data melibatkan korelasi dari masing-masing titik pengamatan berdasarkan kesamaan litologi. Ini berarti bahwa batuan yang ditemukan di berbagai titik akan dianalisis untuk menentukan karakteristik litologinya. Dengan cara ini, informasi yang dikumpulkan dari lapangan dapat digunakan untuk menghasilkan peta geologi yang lebih mendalam dan berbasis pada distribusi batu mulia ataupun logam mulia dan struktur geologi lainnya di daerah tersebut.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Eksplorasi menggunakan metode geokimia</strong></p> <p>Metode geokimia dapat diaplikasikan ke dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia dengan pengambilan serta pengujian sampel tanah dan batuan dari lapangan daerah penelitian. Terdapat beberapa metode geokimia yang bisa kita aplikasikan, antara lain:</p> <p>1. Stream Sediment Sampling&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/YbXeh3ZVaI_ZpSk-lYOgGjPzoGrLhcpNgPSIdG-tgxa5fzdbiFpCD7zDzp1Xe6yolPXRWFjZKydrkiB7j4EOdwmzVudHHGe7-HTjNG5z5spbbbPBTwaAmgAIZw-o0Aw7lwoe_3jW0XqrJkZfI1FXNxU" style="height:229px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:325px" /></p> <p>Metode ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel sedimen pada sungai atau aliran air lainnya untuk mengidentifikasi keberadaan kumpulan mineral maupun bijih logam yang telah ter-transport dari batuan asal.&nbsp;</p> <p>2. Soil Sampling&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/Y4AfWG0_ndlHNT4_xc2_T8cYwfFUfvOweo3eAQabhniJJrfqc7_EIArMGKDbmHq5Ep8knr_Rn6C57Q9ZQiWEQ3lFZr6qUSszfdw9_CvFAAjwfBfr98uztlqGEPPR2P_N_Z9sHNW8aEd4-vzyjFap1IA" style="height:191px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:306px" /></p> <p>Proses pengumpulan sampel dari tanah untuk menentukan susunan mineral dan menyimpulkan potensi mineralisasi pada batuan dasar yang ada di bawah permukaan dimana batuan dasar ditutupi oleh tanah. Metode pengambilan sampel tanah menggunakan alat bor auger dan sekop untuk mengumpulkan sampel dalam pola sistematis.&nbsp;</p> <p>3. Metode Analisis Micro X-ray Fluorescence (&micro;XRF)</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/YJnru2AKZL0MkG7PJQbSICHmJ-i_6M_eNFwpUl-6tUo4cmYpf9DiB8nogrXhp_b7VLpcGQ7I_iz1gfLr4wr2bzdleaPoBFmUztMDoxWdmQ87ffjqu5ahADlj4Z8NaJzgjE6zHS97IUn5MwynSEVRS_Q" style="height:231px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:228px" /></p> <p>Metode yang dilakukan untuk mengetahui sebaran dan kelimpahan unsur dalam sampel batuan atau tanah dalam keadaan vakum yang kemudian dapat diketahui nama mineralnya berdasarkan karakteristik ikatan kimianya. Metode ini dapat digunakan untuk mengecek mineral khas dalam sedimen (contohnya chromium-pyrope, chromium-diopside, magnesium-ilmenite, dan olivine) yang berasosiasi dengan batuan asal batu mulia.</p> <p>4. Metode Analisis X-ray Fluorescence (XRF)&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/tokSt3eN8pf84OSsGQfodHst4qxmkQCegBPMFiloav_r_PgnCBHy4vHtcUdIBDeljvBryMkeybx2oP4qjCSK4ycqzgu4j7HCLH5TdaurV43Mzmmh9POuCnGB50npsckUOhtQXeTvzusZJkDpiNy4wog" style="height:228px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:228px" /></p> <p>Teknik analisis yang memanfaatkan emisi karakteristik sinar-X untuk menentukan komposisi unsur-unsur kimia pada sample batuan. Dalam metode ini, sample akan dipreparasi terlebih dahulu agar dapat dianalisis seperti harus dihancurkan dan ditumbuhkan hingga menjadi berbutir halus. Jika memperoleh hasil kandungan Na lebih tinggi daripada Li, K, Be, Mo pada batuan yang belum terubah, maka menunjukan keberadaan mineralisasi emerald.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Eksplorasi menggunakan metode geofisika</strong></p> <p>Metode geofisika penting dilakukan dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia, karena dengan metode ini akan memberikan gambaran terkait keadaan geologi serta persebaran batu mulia dan logam mulia jauh di bawah permukaan bumi. Terdapat beberapa metode geofisika yang bisa kita aplikasikan, antara lain:</p> <p>1. Gravity Survey&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/MGGbYmmTtlZVaKCf-4NgSeNJ50OeOaeaTwzdzseaV174jI4TfvRN5Zfyfjaot5CqNyuUThlYZX74iQrGcVR_iNudE8IYG91szprYhRlVDx74m-ThKk7DM8EyTYJ62xTbK0A4FuNE8USpUI_lTS7E3Gc" style="height:198px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:264px" /></p> <p>Metode yang memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk memetakan kepadatan bawah permukaan. Batu mulia memiliki kepadatan/berat jenis yang berbeda dengan batuan sekitarnya sehingga tingkat gravitasinya pun berbeda juga dan menghasilkan persebaran perbedaan tingkat kepadatan/berat jenis serta struktur bawah permukaan.</p> <p>2. Magnetic Survey&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/QKEhhOzwZlPDdR94dgD1WYwXX2jaCjrFpKxO4cp9R02m4G85iiG04XiUlFIYjrTihdeaFK2ueJAYh-OQmhRvGUrf_VqkGqxXnfb5ScNvJwC7a03IjrG5omAu_NAu0qJotZvGudPeaDtue2Y7ncTzT5k" style="height:191px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:278px" /></p> <p>Pengukuran medan magnet Bumi di atas tanah atau di udara untuk mendeteksi kekuatan magnetik yang terkait dengan batuan dan mineral. Dimana yang dapat kita ketahui beberapa batu mulia berasosiasi dengan mineral logam sehingga dapat mengetahui persebaran tingkat magnetisme.</p> <p>3. Electrical Survey&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/EbA2oUHypyQeH_WSWFkN8X0dMMwglAu45hkhqiwmRSAd4m6c0gD59_zKMBc8Cs6dRQ6gpFgSGsrUfqK6i4NaL_FvkFGnbgkNKYcq1HhsgPjEOcAlPIFlxfFW2RhtfaX0moREvfCy1lMgHru31XCUnR0" style="height:171px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:255px" /></p> <p>Pengukuran sifat konduktivitas listrik batuan dan mineral. Batu mulia tertentu memiliki konduktivitas listrik yang berbeda dari batuan sekitarnya, sehingga metode ini dapat menghasilkan data aliran fluida atau keberadaan mineral logam yang dapat menghantarkan listrik.</p> <p>4. Seismic Reflection Profiling Survey&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/z7RGW_IzN04L0Nf_zgAcGkR1O_uA2I_TzDVcCU49fls3t4go0bHJZWqmPPTDBzRzS4SUpFyMXMxqoFbeN0Sz6rU529oxR-ArESDvTuznUbaINqrBxW1bg86GzVR8tpk8mUXLoHiVxC4u5p1pYR6EAI0" style="height:225px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:290px" /></p> <p>Memanfaatkan gelombang seismik yang dipancarkan ke bawah permukaan bumi dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan batas lapisan batuan atau fenomena struktur dengan impedansi akustik yang berbeda. Waktu tempuh dan lokasi pantulan gelombang seismik diukur dan dianalisis untuk menentukan fitur geologi bawah permukaan.</p> <p>5. Ground Penetrating Radar Survey&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/IdDXlWFrcLpSWuX99MRIdClwRS4cEHin6t-2X4vhBCTFJXAitMAvgnqghn2K4wiJFHts89pgw9Fw44GQVnmAwgNqaI4_ziVEu8mi5JXryn9YqRckIUJliYkI-C1zgt-6__ByLWCxV9QkQLUO2XFc5X0" style="height:209px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:279px" /></p> <p>Menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi untuk menyelidiki struktur bawah permukaan. Gelombang radar ditembakkan ke bawah permukaan dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan lapisan batuan dengan konduktivitas listrik yang berbeda. Jarak pemancaran sinyal radar bergantung pada sifat serap batuan yang dilaluinya. Semakin tinggi konduktif listrik suatu material, semakin besar pula penyerapan sinyal radar. Ketika sinyal radar mengenai batas antara bahan non konduktif dan konduktif, maka energi elektromagnetik dapat dipantulkan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Contoh eksplorasi batu mulia berlian (</strong><em>diamond</em><strong>)</strong></p> <p>Dalam mengeksplorasi keterdapatan berlian kita harus mengetahui keberadaan batuan <em>kimberlite </em>dan <em>lamproite </em>pada litosfer yang lebih tebal daripada biasanya. Keterdapatan endapan berlian dapat terbentuk pada batuan dari ikatan karbon dengan tekanan yang setara pada kedalaman 150&ndash;200 km sehingga memiliki kompaksi yang lebih tinggi. Karena batuan di bagian mantel litosfer (di bawah kerak bumi, di atas astenosfer) biasanya lebih padat dan kaku maka gelombang seismik dapat cepat merambat dibandingkan batuan di dekatnya yang berada di astenosfer (bersifat cair). Daerah dengan kepadatan tinggi diinterpretasikan sebagai akar litosfer. Setelah akar litosfer ditemukan, data magnetik dan listrik dengan resolusi lebih tinggi memungkinkan dapat mengidentifikasi anomali yang terkait dengan batuan kimberlite dan lamproite. <em>Kimberlite </em>dan <em>lamproite </em>memiliki konsentrasi besi dan magnesium yang tinggi daripada batuan sekitarnya, sehingga seringkali bersifat lebih magnetis dan lebih konduktif dibandingkan batuan yang di sekitarnya. Oleh karena itu, untuk mencari karakteristik tersebut dapat dideteksi dengan metode <em>seismic-wave velocity</em>, <em>gravity </em>dan <em>electrical survey</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sumber:</p> <p>Ahmadi, O., Juhlin, C., Ask, M., &amp; Lund, B. (2015, June 3). <em>Revealing the deeper structure of the end-glacial p&auml;rvie fault system in northern Sweden by seismic reflection profiling</em>. Solid Earth. https://doi.org/10.5194/se-6-621-2015</p> <p><em>Annual Kīlauea Gravity Survey</em> | U.S. Geological Survey. (2024). <a href="https://www.usgs.gov/media/images/march-25-2024-annual-kilauea-gravity-survey-2">https://www.usgs.gov/media/images/march-25-2024-annual-kilauea-gravity-survey-2</a></p> <p>Cook, F. A. (n.d.). <em>Applications of geophysics in gemstone exploration</em>. Gems &amp; Gemology. <a href="https://www.gia.edu/gems-gemology/spring-1997-geology-techniques-cook">https://www.gia.edu/gems-gemology/spring-1997-geology-techniques-cook</a></p> <p>Falah, Muh &amp; Tabbu, Muhammad. (2023). EKSPLORASI BATU MULIA DENGAN METODE PEMETAAN GEOLOGI DAERAH TUWUNG BARRU. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Geography. 8-17. 10.61220/ijfag.v1i1.202302.&nbsp;</p> <p>Fletcher, W. K., et al. (1986). DESIGN AND INTERPRETATION OF SOIL SURVEYS. <em>Exploration Geochemistry</em>, 39&ndash;77. <a href="https://doi.org/10.5382/rev.03.03">https://doi.org/10.5382/rev.03.03</a></p> <p>Groat, L. A., &amp; Laurs, B. M. (2009). Gem Formation, production, and exploration: Why gem deposits are rare and what is being done to find them. <em>Elements</em>, <em>5</em>(3), 153&ndash;158. <a href="https://doi.org/10.2113/gselements.5.3.153">https://doi.org/10.2113/gselements.5.3.153</a></p> <p><em>Ground penetrating radar surveys</em>. Orsco (Pty) Ltd. (2024, January 16). <a href="https://orsco.co.za/ground-penetrating-radar-surveys/">https://orsco.co.za/ground-penetrating-radar-surveys/</a></p> <p>Inc, S. by O. C. (2021, May 3). <em>Methods - electrical resistivity: GeoScan: British Columbia</em>. GeoScan. <a href="https://www.geoscan.ca/methods/electrical-resistance/">https://www.geoscan.ca/methods/electrical-resistance/</a></p> <p><em>Rock characterization for mineral exploration</em>. Bruker. (n.d.). <a href="https://www.bruker.com/en/applications/minerals-mining-and-petrochemical/minerals-exploration-discovery/rock-characterization-for-mineral-exploration.html">https://www.bruker.com/en/applications/minerals-mining-and-petrochemical/minerals-exploration-discovery/rock-characterization-for-mineral-exploration.html</a></p> <p><em>Soil sampling near a uranium mine site in Arizona</em>. Soil sampling near a uranium mine site in Arizona | U.S. Geological Survey. (2016). <a href="https://www.usgs.gov/media/images/soil-sampling-near-uranium-mine-site-arizona-0">https://www.usgs.gov/media/images/soil-sampling-near-uranium-mine-site-arizona-0</a></p> <p>Stream sediments. (n.d.). <a href="https://www.gsi.ie/en-ie/programmes-and-projects/minerals/activities/mineral-exploration/Pages/Stream-Sediments.aspx">https://www.gsi.ie/en-ie/programmes-and-projects/minerals/activities/mineral-exploration/Pages/Stream-Sediments.aspx</a></p> <p><em>X-ray fluorescence spectrometry (XRF)</em>. X-ray Fluorescence Spectrometry (XRF) | School of Earth Sciences. (n.d.). <a href="https://earthsciences.osu.edu/about/facilities/equipment/xrf">https://earthsciences.osu.edu/about/facilities/equipment/xrf</a></p>

Pembentukan (Genesa) Logam Mulia dan Batu Mulia

<p>Genesa merupakan asal mula pembentukan batuan atau mineral yang dapat berasal dari proses yang dipengaruhi oleh proses internal<em> </em>(geologi)<em>,</em> proses eksternal (kondisi iklim), dan pengaruh organik yang dialaminya.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Proses Anorganik (Proses Internal dan Proses Eksternal)</strong></p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/Jm6cia9VJEmPO-gRlDQFyIDO2eQa9jO8PBGuFk4wXh8j2tr2FdSbOiZ-BVpuXJo_eGrd0a2e5koIyC15J4Zp7Cy8qI_bMb3Ha7Z8QmEi0D1yJ_Hdv1fpNAu-jh4FwR8qv3PEt9FYPogmaslnJPG51BM" style="height:449px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:603px" /></p> <p>Proses anorganik adalah proses pembentukan batu mulia dan logam mulia yang terjadi tanpa melibatkan makhluk hidup, melainkan dengan bantuan gaya endogen dan gaya eksogen yang ada di bumi. Proses ini dibagi lagi menjadi proses internal dan proses eksternal.</p> <p><strong>Proses internal</strong> merupakan proses pembentukan mineral yang terjadi di bawah permukaan bumi akibat adanya gaya endogen. Beberapa proses internal pembentukan mineral antara lain:</p> <p>1. Proses Magmatis</p> <p>Proses ini terjadi ketika magma mengalami pendinginan dan pembekuan sehingga membentuk mineral-mineral yang berwujud padat dan memiliki suatu bentuk kristal. Proses ini terjadi pada temperatur tinggi (&gt; 600˚C). Contoh bijih yang dapat terbentuk dari proses ini adalah Intan, Amethyst (Kecubung), Jade (Giok), Emas.</p> <p>2. Proses Pegmatisme</p> <p>Proses ini terjadi setelah proses pembentukan magmatis, larutan sisa magma (larutan pegmatisme) yang terdiri dari cairan dan gas membeku dan menjadi mineral. Mineral tersebut terbentuk dari hasil injeksi magma yang menerobos batuan di sekelilingnya sebagai dike ataupun sill. Proses ini terjadi pada temperatur 600˚C &ndash; 450˚C. Proses ini menghasilkan batuan yang dikenal sebagai pegmatit dan terkadang berasosiasi dengan mineral berharga seperti Akuamarin, Amethyst (Kecubung), Topaz, dan beberapa Turmalin terbaik dunia.</p> <p>3. Proses Pneumatolisis</p> <p>Setelah temperatur menurun di sekitar 450 &ndash; 550˚C, akumulasi gas yang tersisa dari magma mulai membentuk jebakan pneumatolisis dan magma yang tersisa makin encer. Unsur volatil akan bergerak menerobos batuan samping disekitarnya, kemudian batuan samping akan bersifat reaktif terhadap uap panas yang dihasilkan oleh magma, dan membentuk mineral baru. Contoh bijih yang dapat dihasilkan dari proses ini ialah Timah, Epidot, Garnet, Tremolite, Topaz, Vesuvianite, Aktinolit, Tremolite, dan Turmalin.&nbsp;</p> <p>4. Proses Hidrotermal</p> <p>Merupakan proses yang dipengaruhi temperatur dan tekanan yang sangat rendah dan larutan magma yang terbentuk sebelumnya. Proses ini terjadi karena adanya presipitasi larutan fluida panas (hidrotermal) yang dapat berupa fluida magmatik, fluida meteorik, ataupun campuran dari kedua fluida tersebut di sekitar tubuh batuan.</p> <p>Berdasarkan tingkat kedalaman, tekanan, dan temperaturnya, endapan hidrotermal dikelompokkan menjadi 3, yaitu:</p> <ul> <li> <p>Epitermal</p> </li> </ul> <p>Endapan epitermal adalah endapan yang terbentuk di dekat permukaan sampai kedalaman 1500 m di bawah permukaan bumi dengan temperatur 50 &ndash; 200&deg;C. Contoh bijih yang dapat kita temukan di area ini adalah Kuarsa, Emas, Perak, dan Tembaga.</p> <ul> <li> <p>Mesotermal</p> </li> </ul> <p>Endapan mesotermal terbentuk pada kedalaman menengah, yakni dari 1200 &ndash; 4500m, begitu pula tingkat tekanan dan temperaturnya juga menengah. Temperatur pembentukan mineral berkisar antara 200 &ndash; 300&deg;C. Kita dapat menemukan Tembaga, Emas, Kuarsa, dan juga Timah di area ini.</p> <ul> <li> <p>Hipotermal</p> </li> </ul> <p>Endapan hipotermal terbentuk pada wilayah yang cukup dalam, yakni 3000 &ndash; 15000 m di bawah permukaan bumi dan tekanan tinggi serta temperatur berkisar 300 &ndash; 500&deg;C. Bijih biasanya ditemukan pada endapan hipotermal adalah Timah, Emas, Tembaga, dan Turmalin.&nbsp;</p> <p>5. Proses <em>Replacement </em>(<em>Metasomatic replacement)</em></p> <p>Proses penggantian suatu mineral atau lebih menjadi mineral-mineral baru yang lain diakibatkan adanya agen pembawa mineral yang berupa gas, uap, air panas pada suhu rendah dengan mineralisasi komponen sederhana. Bentuk endapan replacement disebut replacement vein. Proses ini umumnya berkaitan juga dengan proses hidrotermal karena berkaitan dengan air panas sebagai salah satu agennya. Contoh bijih yang dapat terbentuk melalui proses ini adalah Emas.</p> <p>6. Proses Metamorfisme</p> <p>Proses perubahan dalam mineralogi atau tekstur yang terjadi pada batuan akibat peningkatan tekanan dan/atau suhu. Contoh bijih yang terbentuk dari proses ini adalah Intan, Jade (Giok), Ruby, Sapphire.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain proses internal, terdapat juga <strong>proses eksternal</strong>, yakni proses pembentukan mineral pada permukaan bumi yang diakibatkan oleh adanya gaya eksogen. Proses-proses tersebut antara lain:</p> <p>1. Proses <em>Mechanical Accumulation</em></p> <p>Proses <em>Mechanical Accumulation</em> adalah proses pengayaan bijih yang berasal dari butiran-butiran mineral yang terpecah akibat proses erosi dan pelapukan batuan oleh tenaga eksogen seperti air dan angin. Mineral-mineral berat yang resisten terhadap erosi dan pelapukan selanjutnya akan tertransport, terakumulasi, dan terendapkan di suatu area yang rendah. Endapan mineral tersebut biasa dikenal dengan <em>placer deposit</em>. Contoh bijih yang bisa didapatkan di endapan ini adalah Emas, Platina, Timah, Titanium, Intan, Corundum, Rutile, Zircon, Andalusite, Tourmaline, Kyanite, Garnet, Topaz, dan Beryl.&nbsp;</p> <p>2. Proses <em>Sedimentary Precipitates</em></p> <p>Mineral dan bijih akan terbentuk melalui proses pengendapan unsur-unsur tertentu dan biasanya akan terendapkan pada lingkungan sedimen yang sesuai, dengan atau tanpa proses penguraian organisme. Contoh bijih yang bisa ditemukan di area ini adalah Mangan, Besi, Jasper, Opal, Rhodochrosite, Lazulite<em>, </em>Apatite, dan Turquoise.&nbsp;</p> <p>3. <em>Residual Processes&nbsp;</em></p> <p>Dalam proses ini, mineral dan unsur pada batuan yang tidak mudah larut (<em>immobile</em>) dalam proses pelindian (<em>leaching</em>) oleh air akan tetap berada di batuan asalnya. Sedangkan, mineral dan unsur yang lebih mudah larut (<em>mobile</em>) akan terendapkan pada kedalaman tertentu. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Nikel, Litium, Bauksit, Corundum, dan Garnet.</p> <p>4. <em>Proses Secondary or Supergene Enrichment</em>&nbsp;</p> <p><em>Pelindian </em>(leaching) unsur-unsur tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian terendapkan pada kedalaman tertentu menghasilkan endapan bijih dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Quartz, Tembaga, Timbal, Besi, Seng, Emas dan Perak.</p> <p>5. Proses <em>Volcanic Exhalative or Sedimentary Exhalative</em></p> <p>Proses pembentukan mineralnya melalui pelepasan gas dan uap panas dari gunung berapi. Pada proses <em>Volcanic Exhalative</em>, gas dan uap panas yang keluar dari gunung berapi akan bercampur dengan air laut atau air meteorik (air hujan). Campuran ini kemudian mendingin dan terendapkan sehingga akan membentuk mineral di permukaan bumi. Sementara itu, pada proses <em>Sedimentary Exhalative</em>, bijih yang terendapkan terbentuk ketika mineral yang berasal dari proses <em>Volcanic Exhalative</em> terkubur dan mengalami perubahan proses geologi seperti metamorfisme. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Perak, Emas, Merkuri, Besi, Seng, Timbal, dan Tembaga.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Proses Organik (Biologis)</strong></p> <p>Proses organik adalah proses pembentukan batu mulia yang melibatkan makhluk hidup. Proses-proses tersebut antara lain.</p> <ol> <li>Proses fosilisasi organisme yang terperangkap dalam resin atau getah pohon konifer pada periode awal Tersier (sekitar 70 juta tahun atau lebih). Kemudian, resin mengeras melalui proses polimerisasi, dimana molekul kecil (monomer) bergabung secara kimia untuk menghasilkan jaringan molekul yang besar. Contohnya fosil serangga yang terperangkap di dalam resin, kerangka kitinnya sedikit berubah, tetapi jaringan lunak bagian dalam hilang. Proses pengerasan resin akan membentuk kopal. Selanjutnya, kopal (<em>copal</em>) akan terendapkan selama berjuta tahun di bawah permukaan bersamaan tumbuhan konifer atau tidak bersamaan tumbuhan konifer. Proses tersebut akan membentuk batu mulia Ambar (<em>Amber) </em>yang resisten/kuat.<br /> <img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/Gi_LLZyNTfrq0eQC_UnwOGzPenJJ5QAfKxEcO0ppi7WQAy0_Aiijue0zeCLZqLfEM-XLXjOQxJrlsGi3WCN-cDvHY9PQOXOHT1fEHdB0YmYFHECUo5XSSc4vOE0Y6-6H-jT6XvLCUFHJdH3-KL1tqVE" style="height:142px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:188px" /></li> <li>Proses pengendapan lapisan-lapisan kalsium karbonatan di sekitar partikel (butiran pasir, makanan, parasit) yang tersangkut di cangkang moluska. Batu mulia yang dihasilkan dari proses ini adalah Mutiara.<br /> <img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/xSYwwbztgMJknZSXnEAomaTRHpKCU3Vccm7JeWt62b8xklSkeTqrJPoaiaKNGiTazNcxO8MCV-ebKirQC4PCm09wiju9NN9s-DdL3svPF0lW1L4Ta09ygFJPDgSup5ff79e7ce5V-KEm60lFld9Atjw" style="height:180px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:271px" /></li> <li>Proses pembentukan dentin yang berasal dari sel odontoblas yang melapisi rongga gigi mamalia tertentu. Dentin adalah jaringan ikat yang termineralisasi dengan matriks organik protein kolagen dan akan membentuk gigi ataupun gading pada mamalia. Batu mulia yang terbentuk dari proses ini adalah Ivory.<br /> <img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/ujydZhec2LSV-7LSbq_JuPeP-0-YKYc1C2ej_YPOUWjXcak0qyLIaViyTMNDMeQT6XTaKxysYXKNg4Tsd3D--WKGhlr-jcyEIl4by00YoSvsMrqDnZYKY2cTIJ3sOlJdQ_j-7xXld7uez6_ADipmc5I" style="height:155px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:207px" /></li> </ol> <p>&nbsp;</p> <p>Sumber:</p> <p>Adiri, Z., Lhissou, R., Harti, A. E., Jellouli, A., &amp; Chakouri, M. (2020). Recent advances in the use of public domain satellite imagery for mineral exploration: A review of Landsat-8 and Sentinel-2 applications. Ore Geology Reviews, 103332. doi:10.1016/j.oregeorev.2020.103332</p> <p>Bateman, A.M. &amp; Jensen, M.L., 1981. Economic Deposits, John Wiley &amp; Sons, Inc, Canada</p> <p>Dill, H. G. (2018). Gems and placers&mdash;A genetic relationship par excellence. Minerals, 8(10), 470.</p> <p>Espinoza, E. O., &amp; Mann, M. J. (1992). Identification guide for ivory and ivory substitutes.</p> <p>Evans, A. M. 1997. An Introduction to Economic Geology and Its Environmental Impact. Blackwell. Blackwell Science Ltd, London, USA, and Australia, 364h.</p> <p>Evans, A. M. (2009). Ore geology and industrial minerals: an introduction. John Wiley &amp; Sons.Prinz, M.,Harlow, G., Peters, J.1988. Rocks and Minerals. Simon &amp; Schuster Inc. New York</p> <p>Garnett, Richard &amp; Bassett, N.C.. (2005). Placer deposits. Econ Geol 100th Anniv Vol. 813-843.</p> <p>Gemological Institute of America: All about gemstones. GIA. (n.d.). https://www.gia.edu/</p> <p>Hedenquist, J.W. and Henely, R.W. (1985) Hydrothermal Eruption in the Waitapu Geothermal System, New Zealand: Their Origin, Associated Breccias, and Relation to Precious Metal Mineralization. Economic Geology, 80, 1640-1668.</p> <p>Matthews, T. (2022, May 3). Ivory gem guide and properties chart. Gemstones. https://www.gemstones.com/gemopedia/ivory</p> <p>Pearl gemstone overview. American Gem Society. (2023, October 5). https://www.americangemsociety.org/birthstones/june-birthstones/pearl-overview/</p>

Genesa Endapan Emas

<p>Emas merupakan salah satu logam mulia yang memiliki nilai tinggi. Emas memiliki karakteristik sectile (lunak, elastis, mudah dibentuk), warna yang menarik (kuning mengkilap tidak mudah memudar), tahan lama, konduktif, dan tahan terhadap panas yang tinggi. Sebanyak 65% emas digunakan untuk industri seni, seperti membuat perhiasan. Selain itu, emas juga digunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti peralatan elektronik, uang, medali, kedokteran gigi, dan masih banyak lagi.</p> <p>Emas sendiri termasuk kedalam logam transisi yang bersifat lunak kekerasannya berkisar antara 2,5 &ndash; 3 Mhos. Karena sifatnya yang relatif lunak, emas akan dicampur dengan logam lain seperti platinum, iridium, nikel, atau zink. Untuk itu perlu adanya ukuran kemurnian emas yaitu karat. Karat merupakan unit sama dengan 1/24 bagian dari emas murni dalam alloy (emas yang dipadukan dengan logam lain). Dengan demikian, emas 24 karat (24K) adalah emas murni. Sedangkan emas 18 karat berarti bahwa material tersebut tersusun atas 18 bagian emas murni dan 6 bagian berupa logam lainnya, atau bisa disebut kandungan emasnya sebesar 75% (18/24).</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/mbkvSZ_jC3LywgSUZ2yy_oKHUTCofhAXpSrTvnRHEfmvN1Lit6vVXiFj5rD9E_T9QtLjB9HEyFH-gthHmO3KH8pzlJ7pjiETCT32YdWtejELFmaoDywfP5bcYnrgVxHF2nLItw4x1Tn0OP9GJjY1HA" style="height:230px; margin-left:0px; margin-top:0px; width:447px" /></p> <p>Emas sebagai salah satu logam tertua yang digunakan oleh manusia, telah ditambang sejak tahun 2000 sebelum masehi oleh bangsa-bangsa di dataran Mesir (Mesir, Sudan, dan Arab Saudi). Sedangkan untuk deposit emas terbesar ditemukan di Precambrian Witwatersrand, Afrika Selatan. Indonesia juga memiliki potensi endapan emas hampir di setiap daerah Indonesia, seperti Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Mauku, dan Papua. Indonesia juga pernah menjadi penghasil emas terbesar di Asia Tenggara sebelum Perang Dunia II.&nbsp;</p> <p>Emas di alam ditemukan dalam dua tipe, yaitu endapan primer dan endapan sekunder (placer). Endapan emas primer terbentuk bersamaan dengan proses pembentukan batuan. Endapan tipe ini terbentuk akibat adanya proses magmatisme. Pada proses magmatisme ini magma mengalami diferensiasi sehingga akan terbentuk endapan mineral sulfida dan oksida. Sebelum kristalisasi berakhir akan terbentuk larutan sisa magma yang mudah bergerak (larutan hidrotermal). Larutan hidrotermal (air magmatik) ini membawa ion sulfida, ion klorida, ion natrium, dan ion kalium yang mengangkut logam emas ke permukaan. Larutan hidrotermal tersebut naik ke atas permukaan melalui zona struktur seperti patahan, sesar, rekahan, dan kontak lithologi. Ketika larutan hidrotermal bercampur dengan air meteorik akan terjadi pendinginan yang menyebabkan ion sulfida dan ion klorida yang membawa emas terendapkan. Endapan ini membentuk urat-urat (vein) sesuai bentuk rongga yang ada.&nbsp;&nbsp;</p> <p>Endapan emas sekunder atau yang lebih dikenal sebagai endapan emas aluvial merupakan emas yang diendapkan bersamaan dengan endapan sedimen. Endapan ini terbentuk akibat proses oksidasi dan sirkulasi air yang terjadi pada endapan emas primer. Proses tersebut menyebabkan mineral emas terlepas dan terendapkan kembali pada rongga-rongga batuan atau pori batuan. Proses erosi yang terjadi ini menghasilkan endapan emas aluvial/placer. Butiran emas pada endapan sekunder cenderung lebih besar dibandingkan dengan butiran endapan primer.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Referensi:</strong></p> <p>Bateman, A.M. &amp; Jensen, M.L., 1981. Economic Deposits, John Wiley &amp; Sons, Inc, Canada, 261 - 268.</p> <p>Goldfarb, R. J., Groves, D. I., &amp; Gardoll, S. (2001). Orogenic gold and geologic time: a global synthesis. Ore geology reviews, 18(1-2), 1-75.</p> <p>Liu, J., Dai, H., Zhai, D., Wang, J., Wang, Y., Yang, L., ... &amp; Li, Q. (2015). Geological and geochemical characteristics and formation mechanisms of the Zhaishang Carlin-like type gold deposit, western Qinling Mountains, China. Ore Geology Reviews, 64, 273-298.</p> <p>Phillips, G. N., &amp; Powell, R. (2009). Formation of gold deposits: Review and evaluation of the continuum model. Earth-Science Reviews, 94(1-4), 1-21.</p>

Berlian Kalimantan (Keterbentukan)

<p>Berlian kalimantan terbentuk pada kedalaman 120 - 180 km di bawah permukaan tanah dengan temperatur 930 - 1250⁰C dan tekanan 4,2 - 6 GPa. Berlian ini diperkirakan berumur 1,2 - 1,6 miliar tahun.</p> <p>Berlian Kalimantan saat ini baru ditemukan dalam bentuk secondary deposit, untuk primary igneous host rock (kimberlite atau lamproite) masih belum ditemukan. Berlian Kalimantan dapat dijumpai pada alluvial deposit di Sungai Landak Kalimantan Barat, Sungai Barito Kalimantan Tengah, Banjarmasin-Martapura Kalimantan Selatan. Berlian Kalimantan ditransportasikan melalui sungai-sungai tersebut yang berakhir di Danau Seran dan Danau Cempaka.</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/r69IcctQQoa971JujAxJKitgdtBYbSzxR_oXP9hBJRpOYpwVF46pSuFmCFuh-uK4igZdaboJi8krRg5FLOcIr9zj4QAX_BnroggycmzDDYCTTB6fU9DN_vIdAGrP3BNOgy7HZbHGo1dX" style="height:287px; width:624px" /></p> <p>Berlian Kalimantan sendiri dibagi menjadi 5 grup berdasarkan morfologi, CL properties, kelimpahan nitrogen, dan karakter aggregation. Kelima grup ini ditemukan di semua lokasi Kalimantan kecuali &ldquo;Cube Combination Forms&rdquo; yang hanya ditemukan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Grup &ldquo;Diver&rsquo;s Helmet&rdquo; lebih umum ditemukan di Kalimantan Timur. Grup &ldquo;Browns&rdquo; banyak ditemukan di Kalimantan Barat. Sedangkan grup &ldquo;Yellow&rdquo; lebih umum ditemukan di Kalimantan Timur.&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/TNB32Oi34g7qNz3TLb1Kcj2IA6u1ez7KD1DzoO0DKHxLx7aEZ9HrwuectdWWgLNV_97MjvyTW9wProin37aN26XHrrDdvxTZxb23JtNsvBAQZpCQ9bGUaSoEJgEWdIhIuH39cwlJWgv_q2Vlxv5q-g" style="height:265px; width:409px" /></p> <p>Berlian umumnya ditemukan pada batuan berumur Precambrian (&gt;500 juta tahun lalu) bersamaan dengan kimberlite atau lamproite. Namun, batuan yang membawa berlian kalimantan memiliki umur yang relatif lebih muda.&nbsp; Meski umur batuan Kalimantan relatif muda, tetapi proses kolisi (tumbukan antar lempeng benua) yang pernah terjadi menghasilkan produk batuan yang kompleks. Proses kolisi tersebut juga menyebabkan batuan dasar Kalimantan mengandung pecahan lithosphere yang berasal dari Gondwanaland.</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/TVW1YjrQZdTfGV8YbImAPx7mknWIftUWUGKLQgaLcj60zrKmGP3-_KAki6cm_thCwGJUZN7pGW2bgjOvQE77qqbj3P9DRxKKOoAx0weLBIj-aovEzTBfFnlFBZvrkM1ve5vS_rlHNJIi" style="height:430px; width:521px" /></p> <p>Penelitian yang telah dilakukan Taylor et al. (1990), mengungkapkan bahwa berlian Kalimantan memiliki kondisi thermal sama dengan Ellendale dan Copeton di Australia. Lebih dari itu, keterbentukan Berlian Kalimantan termasuk kedalam berlian peridotitic sama seperti Ellendale &lsquo;pipe&rsquo; di Australia. Berlian tersebut berasal dari lithosphere subcontinental Asia Tenggara dan Australia sebelah barat laut yang merupakan bagian dari Gondwanaland. Sehingga berlian yang ada di Kalimantan dan Australia bagian barat laut diperkirakan berasal dari sumber yang sama yaitu berupa lamproite. Meski demikian, morfologi dan fitur berlian Kalimantan berbeda dengan berlian Australia (baik yang berasal dari kimberlite, lamproite, dan alluvial).&nbsp;</p> <p><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/bBkNaiAFda5MmKMgdKjt6wvTN_0McO5_ZGMFIA5MK1NWNiCggwsz_-wCfFuhsOHyq-MOm2VzExkHC_pIRVT2PN4u9f0n4NNM_CsWMO0feV9ItBNDZlkD8m4QZuE3qajf6t8QKh5JlBjb" style="height:290px; width:472px" /></p> <p>Sumber berlian Kalimantan dipercaya berasal dari Pamali Breccias. Pamali Breccias merupakan material hasil erosi Bobaris ophiolite berumur Late Cretaceous. Bobaris ophiolite di Kalimantan Tengah bisa saja menjadi kimberlite berlian Kalimantan, tetapi karakteristik yang dimiliki masih kurang apabila disebut sebagai kimberlite. Untuk itu perlu&nbsp;dilakukan studi lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti sumber berlian kalimantan.&nbsp;</p> <p><br /> &nbsp;</p> <p><strong>Referensi:</strong></p> <p>Kadarusman, A., &amp; Tbk, P. I. (2010). The origin of Borneo (Kalimantan) diamond: A summary. In Proceedings PIT IAGI Lombok. The 39th IAGI Annual Convention.</p> <p>Kueter, N., Soesilo, J., Fedortchouk, Y., Nestola, F., Belluco, L., Troch, J., ... &amp; Driesner, T. (2016). Tracing the depositional history of Kalimantan diamonds by zircon provenance and diamond morphology studies. Lithos, 265, 159-176.</p> <p>Smith, C. B., Bulanova, G. P., Kohn, S. C., Milledge, H. J., Hall, A. E., Griffin, B. J., &amp; Pearson, D. G. (2009). Nature and genesis of Kalimantan diamonds. Lithos, 112, 822-832.</p> <p>Spencer, L. K., David , S., Peter, C., &amp; Robert, E. (1988). The Diamond Deposits of Kalimantan, Borneo.&nbsp;</p> <p>Sun, T. T., Wathanakul, P., Atichat, W., Moh, L. H., Kern, L. K., &amp; Hermanto, R. (2005). KALIMANTAN DIAMOND.</p>

Berlian Kalimantan (Sejarah & Karakteristik)

<p>Kalimantan merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang terdapat deposit berlian. Secara etimologi, Kalimantan sendiri berasal dari kata &ldquo;kali&rdquo; yang berarti sungai, &ldquo;ma&rdquo; bermaksud mas, dan &ldquo;ntan&rdquo; berarti intan, sehingga Kalimantan sering diartikan sebagai sungai yang kaya akan emas dan berlian/intan. Hal ini selaras dengan beragam jenis hasil tambang yang ditemukan pada endapan aluvial di sekitar sungai Kalimantan.&nbsp;</p> <p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/sL9O7qT7hZG2XOk6tM2ydeMJjSxB_JU96HXZpMpQOhVp4w8Ynz36jFyvBlrVg0-b5Pbq5qKbF9XNdddHGOuAUHp3hRyX5yNyyVJy04G6N_ghXSnGSuL2qgRjFnZPu_zvkPX9ra_LJ8Mi" style="height:321px; width:624px" /></p> <p>Berlian Kalimantan termasuk salah satu jenis berlian tertua (terkait eksplorasi) di dunia seperti India. Tambang berlian di Kalimantan memiliki sejarah panjang yang sudah dimulai sejak abad ke-6. Namun, hingga saat ini proses penambangan masih dilakukan secara tradisional dengan mengambil secara manual di sekitar sungai. Hal ini dikarenakan hasil studi eksplorasi pada 1985 menunjukkan deposit yang ditemukan walaupun bernilai secara ekonomi, tetapi tidak cukup besar untuk dapat dieksploitasi secara bisnis, sehingga sampai saat ini eksplorasi secara besar tidak pernah dilakukan.&nbsp;</p> <p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/ugd8sKj47s-WnQP_Fb3JdgiEQrVPnTk_vHrmx8Ag2m2BBlakhzl9eAUdoVP4U__kyt7IwiPplr7q5dEhNOWPravRIxf-53wJHfEhoMqCTB9vcWE4plqIDMNjkIGOum3mu7JZcQZ1lLtlCUWw-v2hiA" style="height:502px; width:456px" /></p> <p>Berlian Kalimantan umumnya memiliki ukuran yang relatif kecil, meski pernah ditemukan dengan ukuran &gt;100 ct (166,75 ct). Berlian Kalimantan sebagian besar memiliki kualitas batu mulia dengan beragam warna seperti biru, pink, kuning, cokelat, dan colourless. Colorless, cokelat pucat, dan kuning pucat merupakan warna yang paling sering ditemukan.</p> <p>Berlian Kalimantan memiliki bentuk kristal (crystal habits) yang beragam, yaitu octahedron, tetrahexahedron, flatted tetrahexahedron, rounded tetrahexahedron, dodecahedron, dan macle. Berlian ini umumnya memiliki struktur internal yang homogen atau zonasi oktahedral. Terkadang ditemukan inklusi grafit dalam zonasi oktahedral yang ditafsirkan sebagai inti/pusat berlian. Inklusi grafit sering ditemukan pada berlian yang berasal dari kimberlite. Namun, di Kalimantan kimberlite&nbsp; belum pernah ditemukan, hal ini dimungkinkan oleh karena tidak adanya eksplorasi dalam skala besar.</p> <p>Pada permukaan Berlian Kalimantan biasanya ditemukan fitur/tekstur berupa percussion scars, radioactivity generated spots, plastic deformation, dan fitur lainnya. Fitur percussion scar pada berlian menunjukkan proses yang mengenai berlian seperti reworking, reburial, dan redeposisional. Selain itu, fitur ini juga menunjukkan proses transportasi berlian yang terbawa ke permukaan melalui magma. Fitur radioactive spot menunjukkan bahwa berlian tersebut mengalami kontak dengan fluida radioaktif pada batuan porous yang berasosiasi dengan berlian. Umumnya fitur ini berwarna hijau, tetapi akan berubah menjadi cokelat ketika mendapatkan temperature tinggi. Fitur plastic deformation dapat berupa shield-shape lamina, lamination line, dan cross-hatched laminations. Fitur ini menunjukkan bahwa berlian mengalami deformasi plastis. (Plastic deformation dikenal sebagai sebuah proses yang dapat menghasilkan berlian warna pink), hal ini selaras dengan berlian warna pink yang diyakini ditemukan di Kalimantan.</p> <p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/z0pGfy6AhxytRkRhhhbLHlM27B5TBqbatPaqmdPVG8W0YiU0fVGYEqjr_l9_RqLix2qe-DwOzDKhwji17tSYHf3eRNaw4Xc6vKKKtveCuwLARgnr636jTLUO4GJr1HMkebmtA5vHrWEG" style="height:359px; width:624px" /></p> <p>Ketika dilakukan uji cathodoluminescence Berlian Kalimantan akan menghasilkan warna hijau, biru, kuning dengan inti biru, biru dengan inti kuning, pita berwarna kuning dan biru, serta terkadang ditemukan bercak berwarna biru dan kuning. Reaksi/Warna biru hingga biru tua yang terbentuk menunjukkan bahwa berlian mengandung Nitrogen (tipe I). Hanya berlian bertipe I (memiliki kandungan Nitrogen) yang akan bereaksi ketika dilakukan uji cathodoluminescence, sedangkan berlian tipe II tidak akan bereaksi. Warna kuning hingga kuning kecoklatan yang terlihat diakibatkan oleh kandungan atom nitrogen. Selain itu, dapat ditemukan juga warna hijau ketika berlian telah mengalami deformasi plastis.&nbsp;</p> <p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/fQYrxdR0H3zQuPprWfplzdeKxiZXRWHY5mxyjrqKMxgxTussMjHu2QU7ymxWEqxADbaKSR2VWC7aAJpLLed-PwtBIO4H82hiuzCgi3vcBAz5BJesAjyA-Uq2KiiB0rYM-86EURz3myAJ" style="height:412px; width:420px" /></p> <p><br /> &nbsp;</p> <p><strong>Refrensi:</strong></p> <p>Kadarusman, A., &amp; Tbk, P. I. (2010). The origin of Borneo (Kalimantan) diamond: A summary. In Proceedings PIT IAGI Lombok. The 39th IAGI Annual Convention.</p> <p>Kueter, N., Soesilo, J., Fedortchouk, Y., Nestola, F., Belluco, L., Troch, J., ... &amp; Driesner, T. (2016). Tracing the depositional history of Kalimantan diamonds by zircon provenance and diamond morphology studies. Lithos, 265, 159-176.</p> <p>Smith, C. B., Bulanova, G. P., Kohn, S. C., Milledge, H. J., Hall, A. E., Griffin, B. J., &amp; Pearson, D. G. (2009). Nature and genesis of Kalimantan diamonds. Lithos, 112, 822-832.</p> <p>Spencer, L. K., David , S., Peter, C., &amp; Robert, E. (1988). The Diamond Deposits of Kalimantan, Borneo.&nbsp;</p> <p>Sun, T. T., Wathanakul, P., Atichat, W., Moh, L. H., Kern, L. K., &amp; Hermanto, R. KALIMANTAN DIAMOND.</p>

Proses Keterbentukan Berlian

<p>Diamond atau berlian merupakan salah satu batu permata dengan harga yang paling mahal.&nbsp; Tidak hanya sebagai perhiasan, berlian juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri seperti alat pemotong, bahan pemoles, heat sink pada elektronik, dan masih banyak lagi.&nbsp;</p> <p>Berlian tersusun atas 99,95% karbon. Meskipun graphite juga tersusun atas karbon, tetapi struktur kristal dan proses pembentukannya menjadikan graphite tidak sekeras berian. Berlian sendiri merupakan material paling keras di bumi, dengan skala kekerasan 10 mhos. Hal tersebut menjadikan berlian hanya dapat digores oleh berlian itu sendiri.&nbsp;</p> <p>Butuh jutaan bahkan milyar-an tahun untuk berlian dapat terbentuk sempurna. Hal tersebut dikarenakan dalam proses keterbentukannya, berlian membutuhkan kondisi tekanan, temperatur, dan komposisi kimia yang spesifik. Dengan proses yang panjang dan kondisi yang spesifik dalam pembentukannya, menyebabkan berlian membutuhkan waktu panjang. Setelah terbentuk, berlian juga membutuhkan waktu jutaan hingga milyaran tahun untuk proses pendinginan berlian. Bahkan batuan pembawa berlian umumnya memiliki umur yang lebih muda dibandingkan dengan berlian yang dibawanya.</p> <p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/DNkfuCQHWKh3VPCCskbiDhRD9uHx4QXBxOGrxoreWwUL2Y-2rxcAcyk_FLvH5DLsXYpb_LPVsP_tVRe9BIeiktUPUPj0SktK-5in-Ybq_Dj0UCifruglM0ROyK9rds3yhSXVfKjxz5Ospc2GUNzxRw" style="height:494px; width:560px" /></p> <p>Keterbentukan berlian ini dimulai dengan akumulasi material utama pembentuk berlian, yaitu karbon. Karena material karbon cukup sedikit pada mantel, menyebabkan berlian cenderung langka. Karbon material utama pembentuk berlian dibagi menjadi dua berdasarkan sumbernya, yaitu primordial dan recycled. Primordial karbon merupakan jenis material karbon yang telah ada di mantel sejak awal pembentukan bumi. Sedangkan recycled karbon berasal dari material teroksidasi yang tersimpan di dalam bumi, seperti CO2 dan CO3. Selain itu, material karbon juga dihasilkan dari molekul organik yang berasal dari makhluk hidup, khususnya yang memiliki cangkang (CaCO3). Karbon dari material organik ini akan dibawa ke dalam bumi melalui proses subduksi. Subduksi yang merupakan proses penunjaman kerak samudera yang banyak mengandung CaCO3 ke bawah kerak benua.</p> <p><strong><img src="https://lh4.googleusercontent.com/3xfsSnR5Ch4TsJGOT0X9l91MF1gl2UGW5zBf_2GjCH0JCCXQbTWFAHrL2APFJSqGqnSOikubZqv9Hn9enu0ACopCli85_zqUFeRMq2WUYxafIgqt7IEJI_yI8ktM5Zm1J9gIiuiQ_bcn" style="height:439px; width:624px" /></strong></p> <p>Ketika akumulasi karbon sudah mencapai kedalaman dengan temperature 950 - 1400⁰C dan tekanan 4 GPa, proses pembentukan berlian akan dimulai. Suhu/temperature akan sebanding dengan kedalaman yang disebut dengan gradient geothermal. Berdasarkan mekanisme gradient geothermal tersebut, akan tercapai suku 950⁰C pada kedalaman 140 km. Pada kedalaman tersebut juga akan didapatkan tekanan yang sangat besar akibat tumpukan batuan yang berada diatasnya.&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong><img src="https://lh4.googleusercontent.com/Ii41Y0hVCRkTIXuwL6GPh_DCYuWjY0Wy4N_eTRS_Q90foYHNgsPieeMKOnTph4udGWP_yjbe4gMZPLxg7D0RKDDDgpjgRaCQbIjm5KzTaDIv7NSrS0L8yYhdJ2J1GEDagB14qxLPs6XlxbXlhgTmew" style="height:326px; width:351px" /></strong></p> <p>Proses keterbentukan berlian ini sangat berhubungan dengan proses redoks (reduksi-oksidasi) antara material utama dengan dinding batuan. Dalam proses keterbentukannya ini terkadang ditemukan mineral pengotor berupa Nitrogen dan atau Boron. Keberadaan mineral pengotor ini akan mempengaruhi warna dan bentuk kristal dari berlian tersebut. Umumnya berlian dengan kandungan karbon murni 100% akan menghasilkan berlian takberwarna bertipe IIa. Ketika berlian mengandung mineral pengotor berupa Boron akan dihasilkan berlian berwarna biru dengan tipe IIb. Sedangkan berlian dengan mineral pengotor Nitrogen akan menghasilkan warna kuning dengan tipe Ia/Ib tergantung jenis ikatan karbon yang terbentuk.&nbsp;</p> <p>Dalam beberapa kasus, berlian terbentuk di kedalaman lebih dari 600 km yang sering disebut superdeep diamond. Berlian jenis ini terbentuk pada tekanan dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan berlian pada umumnya. Berlian jenis ini biasanya memiliki warna pink/coklat. Selain itu, dapat juga ditemukan berlian berwarna biru ketika mineral pengotornya berupa Boron. Pada superdeep diamond, tidak dapat ditemukan mineral pengotor berupa Nitrogen.&nbsp;</p> <p>Berlian yang terbentuk dan tersimpan jauh di bawah permukaan bumi akan terbawa naik bersamaan dengan aktivitas gunung berapi. Berlian akan terbawa ke permukaan bersamaan dengan magma yang mendingin dan membentuk batuan beku. Batuan yang membawa berlian ini disebut dengan &ldquo;kimberlite&rdquo;. Kimberlite menjadi sumber utama tambang berlian. Selain aktivitas gunung api, berlian juga dapat dibawa ke permukaan melalui intrusi magma seperti dike atau sill yang biasa disebut dengan &ldquo;lamproite&rdquo;. Lamproite cenderung memiliki kandungan yang lebih sedikit dibandingkan kimberlite.&nbsp;</p> <p><strong><img src="https://lh3.googleusercontent.com/ZY_YNGVrnuNXZ8uYxBz-MWXI3DywgmQWM2TA4OuA6uW2glEgkamoFntS3bmOFh9FcQ_6Nxn48xrKklG1OXZH6m2_S9rtzcZwMwgmUhl9BGAICeKZvLYHtnCquc6iq8sJjGqduv5uE1C3RIRyisal9A" style="height:252px; width:326px" /></strong></p> <p>Erosi yang terjadi terus menerus mengakibatkan batuan pembawa berlian lapuk dan berlian ikut terlepas, terlebih kimberlite sangat mudah mengalami pelapukan dan erosi. Kemudian berlian ini akan tertransportasi melalui sungai dan terdeposisi di sungai seperti yang terjadi di Sungai Orange di Afrika Selatan. Selain itu, berlian juga dapat tertransportasi melalui longshore current seperti yang terjadi di Selatan Atlantik.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Refrensi</strong></p> <p>Bulanova, G. P. (1995). The formation of diamond.&nbsp;Journal of Geochemical Exploration,&nbsp;53(1-3), 1-23.</p> <p>GIA. 2023. Diamonds Origins. <a href="https://discover.gia.edu/diamond-origin">https://discover.gia.edu/diamond-origin</a>.&nbsp;</p> <p>GIA. 2023. Diamond Description. <a href="https://www.gia.edu/diamond-description">https://www.gia.edu/diamond-description</a>.&nbsp;</p> <p>GIA. 2023. Where Diamonds Come From. <a href="https://4cs.gia.edu/en-us/where-diamonds-come-from/">https://4cs.gia.edu/en-us/where-diamonds-come-from/</a>.&nbsp;</p> <p>Mahmut MAT. (2023). Diamond. <a href="https://geologyscience.com/minerals/diamond/">https://geologyscience.com/minerals/diamond/</a>.&nbsp;</p> <p>Shirey, Steven &amp; Shigley, James. (2013). Recent Advances In Understanding The Geology od Diamonds. Gems &amp; Geomology.&nbsp;</p> <p>Smith, Karen V., &amp; Shirey, Steven B. (2018). How Do Diamonds Form in the Deep Earth?. Gems &amp; Geology. GIA.</p> <p>Stachel, T., &amp; Luth, R. W. (2015). Diamond formation&mdash;Where, when and how?.&nbsp;Lithos,&nbsp;220, 200-220.</p>

Pengenalan Berlian

<h2><strong>Pengenalan Berlian</strong></h2> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Berlian merupakan satu-satunya batu permata yang terdiri atas satu unsur yakni karbon (C) yang mengisi sekitar 99.95 %. Persentase sisanya adalah unsur-unsur yang disebut impurities (zat pengotor) atau trace element yang akan berpengaruh terhadap karakteristik yang dimunculkan oleh berlian tersebut dan menentukan tipenya. Berlian terbentuk akibat unsur karbon yang terkonsentrasi dan terendapkan pada kedalaman kurang lebih 100 mil di bawah permukaan sehingga unsur tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi dan menyebabkan terbentuknya berlian pada batuan induknya (Kimberlite, Lamproite, dll).</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Berlian dapat dibagi menjadi 4 tipe yakni:<br /> <br /> 1. Tipe 1A : Pada tipe ini, berlian tersusun atas unsur mayoritas karbon dan sedikit unsur nitrogen yang membentuk sebuah cluster yang dimana&nbsp; unsur nitrogen tersebut terikat satu sama lain.<br /> 2. Tipe 1B : Pada tipe ini, berlian tersusun atas unsur karbon dengan sedikit unsur nitrogen yang terisolasi atau terlepas antara satu sama lain.</strong></p> <p><strong>3. Tipe 2A : Pada tipe ini, berlian tersusun atas karbon murni sehingga memungkinkan berlian tersebut tidak memiliki warna (colourless) sehingga menjadi berlian yang memiliki grade tinggi.</strong></p> <p><strong>4. Tipe 2B : Pada tipe ini, berlian tersusun atas Karbon dengan sedikit persentase trace element berupa Boron sehingga menyebabkan warna yang dihasilkan berupa biru natural.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Berlian dinilai berdasarkan beberapa kategori, hal inilah yang disebut sebagai Diamond Grading. Penilaian-penilaian yang masuk di dalamnya adalah Carat, Cut, Color, Clarity, keempat komponen penilaian tersebut biasa disebut 4C. Carat mengindikasikan berat atau besaran dari suatu berlian, semakin besar suatu berlian akan semakin tinggi harganya. Cut merupakan faktor yang ditandai oleh potongan dari berlian tersebut, skala penilaian Cut terdiri dari rentang Excellent hingga Poor, jenis potongan juga berpengaruh terhadap nilai berlian sebagaimana yang telah diketahui bahwa jenis potongan yang paling baik adalah Round Cut. Color merupakan penilaian yang menggunakan warna dari suatu berlian sebagai patokannya dengan rentang penilaian menggunakan huruf dari dimulai oleh huruf D hingga Z, huruf D mengartikan bahwa berlian tersebut tidak memiliki warna (Colourless) yang dapat menyebabkan harga berlian tersebut semakin tinggi. Yang terakhir adalah Clarity, Clarity adalah penilaian terhadap kejernihan dari suatu berlian, berlian akan dianggap sangat baik apabila memiliki Clarity Flawless dan Internal Flawless yang berada sedikit di bawahnya, setelah itu berlian akan dinilai dengan rentang VVS1 hingga I3.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>REFERENSI</p> <p>Shirey, S. B. &amp; Smit, K. V. (2019). Kimberlite: Earth&rsquo;s Diamond Delivery System. GIA: Gems &amp; Gemology, Summer 2019, Vol. 55, No. 2.&nbsp;</p> <p>Shirey, S. B. &amp; Smit, K. V. (2018). Diamonds from the Deep: How Do Diamonds Form in the Deep Earth?. GIA: Gems &amp; Gemology, Winter 2018, Vol. 54, No. 4.&nbsp;</p>

Pengenalan Batu Mulia Opal dan Variasinya

<h1><strong>Genesa Batu Mulia Opal dan Variasinya</strong></h1> <p><strong>Batu Permata Opal atau dikenal dengan Batu Baiduri merupakan batuan yang cukup terkenal akibat warnanya yang unik dan memiliki corak yang terkadang dapat membentuk rupa hewan ataupun pemandangan yang sinematik. Opal ini terkenal baik di dunia, maupun di Indonesia sendiri. Karena pada dasarnya di Indonesia terdapat juga batu permata Opal ini yang mungkin masih termasuk dalam Common opal. Opal di Indonesia yang terkenal adalah Opal Kalimaya, ini merujuk dari filosofinya yaitu Kali berasal dari kata daerah yang dialiri air (sungai) dan maya merupakan dari kata &ldquo;Maja&rdquo; nama kecamatan ditemukannya batu opal ini yang berada di Banten. Batu Permata Opal ini memiliki corak yang unik dan ada beberapa kondisi yang menyebabkan sifat optik yang khusus dan unik. Semisal terdapat Batu Permata Kalimaya Bunglon yang ketika basah batunya atau terkena air, maka akan memunculkan corak seperti kabut-kabut yang unik, lalu ketika kering akan menimbulkan Play colour atau keindahan warnanya.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <h2><strong>Keterbentukan Opal di Alam</strong></h2> <p><strong>Opal yang tentunya berharga merupakan opal yang terbentuk di alam, hal ini umumnya ditemukan pada batuan-batuan sedimen, batuan yang terdapat fosilnya, dan juga batuan gunung api (tuf, piroklastik). Opal mudah terbentuk dari batuan yang terdapat rongga-rongga yang berada pada batuan seperti batu piroklastik dan sedimen batu pasir yang terdapatnya porositas. Ketika fluida yang mengandung kandungan silika (fluida bercampur dengan hidrotermal) mengaliri dari batuan-batuan sedimen atau batuan piroklastik, beberapa fluida tersebut akan mengisi kekosongan dari rongga-rongganya dan akan terjadi pendinginan (kristalisasi mineral) kuarsa yang masih terdapat kandungan H2O (air), ketika mendingin kandungan dari air tersebut terperangkap pada silika yang sudah membeku, menjadikan air terperangkap dan membentuk warna indah dari batu permata Opal ini. Besaran dan berat opal tergantung rongga-rongga yang berada pada batuan tersebut, sehingga umumnya opal ditemukan di alam dengan terbilang berat dan ukuran yang tidak besar.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Terdapat juga kondisi kedua, ketika fosil-fosil yang sudah mengalami silisifikasi (salah satu fosilisasi dengan adanya kandungan silika pada fosil tersebut), pada fosil tersebut mengalami pelapukan, sehingga kandungan silikanya larut dan bercampur dengan air, pada suatu kondisi larutan air dengan silika membeku membentuk sebuah opal dengan kandungan airnya mencapai 10%, tetapi ada juga yang sampai mencapai 20%, pada kandungan air yang 20% perlunya perawatan khusus dan ada beberapa tindakan yang perlu dihindari agar Opal Gemstones terawat dengan baik.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <h2><strong>Karakteristik untuk Identifikasi Opal</strong></h2> <p><strong>Untuk mengidentifikasi opal, terdapat beberapa karakteristik yang tentunya perlu diketahui yaitu mineral pembentuk dari opal adalah silika dioksida (SiO2, kuarsa) bercampur dengan air (H2O), silika dioksida membentuk polimorf (bukan kristal) yang membuat air terperangkap pada silika struktur polimorfnya. Konten airnya dapat mencapai 20%, tetapi pada umumnya sekitar 8-10%.</strong></p> <ul> <li> <p><strong>Refractive Index (RI) : 1,37 - 1,47</strong></p> </li> <li> <p><strong>Birefringence : None</strong></p> </li> <li> <p><strong>Specific Gravity (SG) : 2,15</strong></p> </li> <li> <p><strong>Mohs Hardness : 5 - 6,5</strong></p> </li> </ul> <p>&nbsp;</p> <h2><strong>Tipe Utama Precious Opal</strong></h2> <p><strong>1. Dark Opal</strong></p> <p><strong>Dark Opal merupakan tipe opal yang memiliki latar belakang batunya (batuan dasarnya berwarna hitam). Tipe ini merupakan tipe paling langka dan paling mahal daripada tipe opal lainnya. Pernah ditemukan di Australia pada daerah Lightning Ridge di New South Wales, warna dasar hitamnya terbentuk adanya kehadiran partikel gelap yang terbentuk di silika strukturnya. Warna hitam ini tentunya mempengaruhi indahnya opal oleh patternnya karena dasarnya gelap.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>2. White Opal</strong></p> <p><strong>White Opal atau biasa disebut dengan Milky Opal, memiliki latar warna batuan dasar yaitu warna putih susu, krem, abu-abu kehijauan, atau mungkin juga hampir transparan. White Opal ini ditemukan di Ethiopia dan Australia, spesifiknya pada Coober Pedy di Australia Selatan. Warna latarnya ini dapat terbentuk karena adanya kehadiran Iron oxide (Fe2O3), tipe White Opal ini yang paling sering ditemukan.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>3. Boulder Opal</strong></p> <p><strong>Boulder Opal merupakan salah satu opal yang mungkin dianggap cukup murah dan juga mudah ditemukan, karena satu hal latar batuan merupakan batuan bongkah (Boulder) yang mungkin merupakan batuan sedimen, ada juga yang ditemukan dari batuan yang mengandung besi, sehingga terlihat berwarna agak gelap. Ini mudah sekali ditemukan di Queensland, Australia</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>4. Fire Opal</strong></p> <p><strong>Fire opal memiliki warna yang cerah seperti warna terbakar, ada yang berwarna kuning kejinggan, jingga kemerahan, atau juga ada yang berwarna kuning saja. Opal ini sangat indah dari Body tone saja, jarang yang terdapat patternnya atau dapat dianggap langka, sehingga tanpa Play of colour, Fire Opal ini sudah cukup mahal. Fire opal salah satunya ditemukan di Mexico dan terkenal pada area tersebut.</strong></p> <p>&nbsp;</p>

Geological Setting Proses Magmatik Beryl Di Bumi

<h2><strong>Geological Setting Magmatik Proses Beryl Di Bumi</strong></h2> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Precious Gemstones Emerald atau Zamrud yang terbentuk dari mineral penyusunnya adalah Beryl, merupakan salah satu mineral yang terbentuknya diperlukan kondisi yang khusus. Pada kasus Batu mulia Emerald ini, yang salah satunya terkenal adalah di Kolombia, ini merujuk bahwa Kolombia adalah salah satu penghasil Emerald terbesar, Kolombia memiliki deposit primer terbentuknya mineral Beryl dengan pengotornya yaitu Kromium (Kr) dan/atau Vanadium (V). Untuk membentuk deposit batuan primer (Kimberlite) bergantung pada Geological Setting, sehingga tidak semua negara dapat menghasilkan Emerald tersebut. Pada kali ini G-Article akan membahas deposit primer Emerald yang terbentuk di berbagai negara.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Giuliani, G (2019) bahwa deposit primer Beryl dibagi menjadi dua klasifikasi utama yaitu :&nbsp;</strong></p> <p><strong>1. Tipe Tektonik akibat Metamorfik, dibagi menjadi empat subtipe yaitu :</strong></p> <ul> <li> <p><strong>M-UMR, Contoh di Brazil, Australia</strong></p> </li> <li> <p><strong>Batuan Sedimen Black Shales, Contoh di Kolombia, Kanada, USA</strong></p> </li> <li> <p><strong>Batuan Metamorfik, Contoh di China, Afghanistan, USA</strong></p> </li> <li> <p><strong>Batuan Metamorfik yang terkena Intrusi Granitik, Contoh di Austria, Mesir, Pakistan</strong></p> </li> </ul> <p>&nbsp;</p> <p><strong>2. Tipe Tektonik akibat Magmatik, dibagi menjadi tiga subtipe yaitu :&nbsp;</strong></p> <ul> <li> <p><strong>Batuan Mafik-ultramafik, Contoh Brazil, Zambia, Rusia</strong></p> </li> <li> <p><strong>Batuan Sedimen terkena hidrotermal, Contoh China, Kanada, Kazakhstan, Australia</strong></p> </li> <li> <p><strong>Batuan Granitik, Contoh di Nigeria</strong></p> </li> </ul> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Pada pembahasan ini yang di highlight adalah pembentukan Emerald berdasarkan tipe tektonik yang diakibatkan oleh proses magmatik yang menjadi indikator utamanya. Pada umumnya, pembentukan Zamrud yang diakibatkan oleh proses magmatik dibagi menjadi tiga berdasarkan batuan induknya.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <h3><strong>Tipe IA&nbsp;</strong></h3> <p><strong>Merupakan tipe deposit Zamrud yang paling umum dan banyak, terbentuk akibat proses magmatik yang dimana terdapat batuan Granit plutonik (mengandung Be, F, Li, W, B) yang mengalami melting dan membentuk vein Pegmatite yang mengintrusi tubuh dari batuan induknya yakni batuan Mafic atau Ultramafic (mengandung Cr, V, Sc, Mg, Ca). Intrusi vein tersebut akan berinteraksi dengan tubuh dari batuan induknya berupa sirkulasi fluida sehingga mengubah batuan M-UM dan batuan Pegmatite sehingga presipitasi Zamrud dapat terjadi.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <h3><strong>Tipe IB</strong></h3> <p><strong>Merupakan tipe deposit Zamrud yang tersebar pada kawasan di Cina, Kanada, Kazakhstan, dan lain sebagainya. Proses magmatik pada batuan ini terjadi pada batuan sedimen yang terintrusi oleh magma yang menyuplai Beryllium dan panas untuk dapat terjadinya mineralisasi Beryl.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <h3><strong>Tipe IC</strong></h3> <p><strong>Merupakan tipe deposit yang sejauh ini hanya ditemukan di Nigeria yang terbentuk pada batuan induk Granitoid (batuan beku pluton yang tersusun oleh mayoritas kuarsa dan feldspar serta memiliki butiran berukuran besar). Pada tipe ini terjadi proses albitisasi (mineral feldspar tergantikan oleh mineral albite) yang merubah batuan induk tersebut dan menyebabkan mineral baru terbentuk sehingga menghasilkan Zamrud bersama dengan kuarsa, topaz, dan feldspar.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Proses geologi yang terlibat pada proses pembentukan Zamrud akan berpengaruh terhadap karakteristik Zamrud yang dihasilkan. Perbedaan karakteristik antar masing-masing Zamrud dapat terlihat seperti pada Zamrud yang berasal dari Zambia dan Kolombia. Zamrud Zambia berasal dari setting geologi yang dimana Zamrud tersebut berasal dari batuan Komatiite yang tidak hanya menyediakan Cr tetapi juga menyebabkan banyaknya unsur Fe pada kandungan Zamrud yang dihasilkan, unsur Fe tersebut akan memberikan efek warna hijau yang lebih gelap dan kebiruan. Sementara itu, pada kasus Zamrud Kolombia, fluida hidrotermal yang melewati rekahan hingga menuju ke permukaan akan bertemu dengan Black Shale yang mengandung karbon sehingga menimbulkan interaksi yang akan mengubah sulfat dan besi menjadi pirit. Penghilangan unsur besi ini mengakibatkan warna hijau yang dihasilkan oleh Zamrud Kolombia berwarna hijau terang dibandingkan dengan Zamrud Zambia.</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <h3><strong>REFERENSI</strong></h3> <h3>&nbsp;</h3> <p>Gaston, G &amp; Lee, A. Geological Institute of America (GIA). (2019). &ldquo;Geology of Corundum and Emerald Gem Deposits : a Review.&nbsp;</p> <p>Giuliani, G., Groat, L., Marshall, D., &amp; Fallick, E. (2019). &ldquo; Emerald Deposits : A Review and Enhanced Classification&rdquo;. Minerals. MDPI Publication. 105;hh 2-63.</p> <p>Peter, G. (2005). Gemmology Third Edition. Elsevier Publish : Oxford.</p> <p>Peter, G. (1984). Beginner&rsquo;s Guide to Gemmology. Heinemann Professional Publishing : London.</p> <p>Schmetzer, K. (2022). &ldquo; History of Emerald Mining In The Habachtal Deposit of Austria&rdquo;. Gems &amp; Gemology Spring 2022. Vol LVIII.</p> <p>&nbsp;</p>

    Artikel Terpopuler

    BERILAN DAN IMITASINYA

    Penamaan untuk Berlian (Diamond) berasal dari bahasa Yunani ‘adamous’ yang berarti ‘unconquerable’ atau yang tak tertundukkan. Penamaan ini tak lepas dari fakta bahwa berlian adalah material terkeras yang pernah ditemukan manusia di muka bumi. Istilah kekerasan disini adalah mengacu pada tingkat ketahanan berlian untuk menahan segala macam goresan dari material lain selain berlian itu sendiri. Jadi pada akhirnya tidak ada material lain yang dapat menggores berlian kecuali berlian itu sendiri. Mengapa harga berlian relatif mahal? Berbagai macam faktor sangat mempengaruhi harga berlian, kelangkaan deposit di muka bumi dan faktor 4C (Color, Clarity, Cut, Carat) sangat berpengaruh di dalam penentuan harga berlian. Proses mendapatkan berlian dari tambang, jalur distribusi perusahaan-perusahaan seperti De Beers, Dominion Diamond Corporation, Rio Tinto, dll  proses perencanaan dan pemolesan yang kompleks, hingga dapat dipakai terikat dalam cincin di jari manis pasangan anda pun tidaklah mudah. Dari kombinasi faktor-faktor tersebut di atas, maka tak heran harga berlian menjadi mahal. Mengingat industri berlian ini sangat rumit dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk terjun didalamnya, maka manusia mencari cara alternatif untuk mendapatkan tiruan/imitasi berlian yang dapat dipakai dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Batu-batu permata lain baik itu batu natural alam ataupun batu sintetik buatan pabrik dipakai sebagai subtitusi berlian. Perbandingan karakteristik berlian dan imitasi/tiruan yang sering dipakai dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :  Sumber: AIGS Gem Identification 2012 AIGS Diamond Grading and Pricing 2012 Gambar dari berbagai sumber    

    Quartz

    Kuarsa adalah salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak kontinen bumi. Mineral ini memiliki struktur kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi (silikon dioksida, SiO2), dengan skala kekerasan mohs 7, indek bias 1.544 – 1.553 dan berat jenis 2,65 g/cm³. Bentuk umum kuarsa adalah prisma segienam yang memiliki ujung piramida segienam.                 Berikut adalah varietas -varietas dari spesies kuarsa (quartz) :

    CHALCEDONY DAN VARIETASNYA

    Chalcedony merupakan bentuk cryptocrystalline dari Quartz. Chalcedony banyak ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, salah satunya adalah Chrysocolla-Chalcedony yang populer dengan nama batu bacan. Chalcedony memiliki bentuk kristal sistem hexagonal (trigonal) dalam ukuran cryptocrystalline, dengan komposisi kimia SiO2, indek bias 1.53 atau 1.54 (spot reading), berat jenis 2.60 (+ .10,- .05),  serta tingkat kekerasan 6.5 – 7.0 skala mohs. Berikut adalah varietas -varietas dari spesies chalcedony : Sumber : 1. GIA Gem Reference Guide 2. Gambar dari berbagai sumber di internet

    JADE

    Jade atau sering disebut dengan Giok oleh masyarakat Indonesia adalah material batu mulia terkuat (tough) yang pernah dikerjakan oleh manusia untuk dijadikan karya seni baik berupa pahatan, ornamen, ataupun sebagai batu mulia perhiasan. Material Jade terkenal kuat karena adanya kristal-kristal kecil pembentuknya yang saling mengunci satu dengan yang lain. Penamaan Jade berasal dari bahasa Spanyol piedra de hijada (yang kira-kira berarti berguna untuk mengobati penyakit ginjal). Sampai saat ini hanya dua mineral yang bisa dikategorikan sebagai Jade asli, yaitu Nephrite-Jade dan Jadeite-Jade. Nephrite-Jade adalah varietas berserat compact dari famili actinolite-tremolite yang berasal dari grup mineral amphibole. Material ini banyak ditemukan di seluruh penjuru dunia seperti : New Zealand, Canada, China, Amerika Serikat, Indonesia. Warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hijau gelap, kuning sampai ciklat, abu-abu, dan hitam. Ciri khususnya adalah seringkali ditemukan bintik-bintik hitam di dalamnya apabila dilihat dalam pembesaran. Jadeite-Jade mempunyai unsur kimia NaAl(SiO3)2 yaitu Sodium Aluminum Silicate. Jadeite-Jade relatif lebih mahal harganya dari ‘saudaranya’ Nephrite-Jade karena lebih langka ditemukan untuk kualitas batu mulia. Kombinasi faktor utama penentuan kualitas dan harga dari Jadeite-Jade adalah dari : Intensitas warna, transparansi dan tekstur. Range warna dari Jadeite-Jade cukup bervariasi dari putih sampai abu-abu pucat, hijau kekuning-kuningan sampai hijau kebiru-biruan (warna hijau zamrut), violet (ungu tua), kuning, merah, coklat, dan hitam. Daerah penghasil kualitas batu mulia antara lain : Myanmar, Guatemala, Jepang, Amerika Serikat, Rusia. Sumber : AIGS Gem Identification 2012 Gems, Sixth Edition, Michael O’Donoghue 2006 GIA Gems Reference Guide 2009 Gambar dari berbagai sumber

    Apa itu Batu Mulia

    Dari sekitar 3.000 mineral yang terdapat di alam semesta, hanya ada beberapa jenis mineral yang memiliki kualitas khusus yang biasa kita sebut sebagai batu mulia (gemstone). Dalam mempelajari dan mengidentifikasi batu mulia, para ilmuwan menerapkan prinsip-prinsip gemologi. Dalam ilmu gemologi, syarat suatu mineral agar bisa dikatakan sebagai batu mulia harus memiliki tiga kriteria pokok. Tiga kriteria pokok tersebut adalah Keindahan (beauty) Keindahan adalah faktor yang sangat penting. Batu mulia harus terlihat menarik dan memiliki warna yang indah. Faktor-faktor yang mempengaruhi keindahan antara lain: Kemilau permukaan ( luster) Warna (color) Dispersi (Dispersion) Transparansi (Transparency) Briliansi (Brilliancy)   Ketahanan (durability) Ketika batu mulia digunakan sebagai perhiasan yang dipakai sehari-hari, ia harus memiliki kemampuan untuk tetap mempertahankan keindahannya terhadap panas, bahan-bahan kimia, dan jangka waktu pemakaian. Faktor yang mempengaruhi durability antara lain kekerasan (hardness), ketangguhan/ keuletan (toughness), dan stabilitas (stability). Kelangkaan (rarity) Faktor yang tidak kalah penting dan menjadi kunci dalam penentuan harga adalah Kelangkaan. Hal ini berkaitan erat dengan hukum permintaan dan penawaran di pasar. Semakin langka batu mulia dan diperkirakan tidak akan ditemukan pusat pertambangan yang baru dalam waktu dekat, maka harga sebuah batu mulia bisa melambung sangat tinggi. Meskipun pemasaran (marketing) tetap menjadi bagian yang penting dalam penentuan harga dan pasar.