021 - 39838014

Pembentukan (Genesa) Logam Mulia dan Batu Mulia

Kategori

 

Journey of Gemstone and Precious Metal

Bagikan:

 

Genesa merupakan asal mula pembentukan batuan atau mineral yang dapat berasal dari proses yang dipengaruhi oleh proses internal (geologi), proses eksternal (kondisi iklim), dan pengaruh organik yang dialaminya.

 

Proses Anorganik (Proses Internal dan Proses Eksternal)

Proses anorganik adalah proses pembentukan batu mulia dan logam mulia yang terjadi tanpa melibatkan makhluk hidup, melainkan dengan bantuan gaya endogen dan gaya eksogen yang ada di bumi. Proses ini dibagi lagi menjadi proses internal dan proses eksternal.

Proses internal merupakan proses pembentukan mineral yang terjadi di bawah permukaan bumi akibat adanya gaya endogen. Beberapa proses internal pembentukan mineral antara lain:

1. Proses Magmatis

Proses ini terjadi ketika magma mengalami pendinginan dan pembekuan sehingga membentuk mineral-mineral yang berwujud padat dan memiliki suatu bentuk kristal. Proses ini terjadi pada temperatur tinggi (> 600˚C). Contoh bijih yang dapat terbentuk dari proses ini adalah Intan, Amethyst (Kecubung), Jade (Giok), Emas.

2. Proses Pegmatisme

Proses ini terjadi setelah proses pembentukan magmatis, larutan sisa magma (larutan pegmatisme) yang terdiri dari cairan dan gas membeku dan menjadi mineral. Mineral tersebut terbentuk dari hasil injeksi magma yang menerobos batuan di sekelilingnya sebagai dike ataupun sill. Proses ini terjadi pada temperatur 600˚C – 450˚C. Proses ini menghasilkan batuan yang dikenal sebagai pegmatit dan terkadang berasosiasi dengan mineral berharga seperti Akuamarin, Amethyst (Kecubung), Topaz, dan beberapa Turmalin terbaik dunia.

3. Proses Pneumatolisis

Setelah temperatur menurun di sekitar 450 – 550˚C, akumulasi gas yang tersisa dari magma mulai membentuk jebakan pneumatolisis dan magma yang tersisa makin encer. Unsur volatil akan bergerak menerobos batuan samping disekitarnya, kemudian batuan samping akan bersifat reaktif terhadap uap panas yang dihasilkan oleh magma, dan membentuk mineral baru. Contoh bijih yang dapat dihasilkan dari proses ini ialah Timah, Epidot, Garnet, Tremolite, Topaz, Vesuvianite, Aktinolit, Tremolite, dan Turmalin. 

4. Proses Hidrotermal

Merupakan proses yang dipengaruhi temperatur dan tekanan yang sangat rendah dan larutan magma yang terbentuk sebelumnya. Proses ini terjadi karena adanya presipitasi larutan fluida panas (hidrotermal) yang dapat berupa fluida magmatik, fluida meteorik, ataupun campuran dari kedua fluida tersebut di sekitar tubuh batuan.

Berdasarkan tingkat kedalaman, tekanan, dan temperaturnya, endapan hidrotermal dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  • Epitermal

Endapan epitermal adalah endapan yang terbentuk di dekat permukaan sampai kedalaman 1500 m di bawah permukaan bumi dengan temperatur 50 – 200°C. Contoh bijih yang dapat kita temukan di area ini adalah Kuarsa, Emas, Perak, dan Tembaga.

  • Mesotermal

Endapan mesotermal terbentuk pada kedalaman menengah, yakni dari 1200 – 4500m, begitu pula tingkat tekanan dan temperaturnya juga menengah. Temperatur pembentukan mineral berkisar antara 200 – 300°C. Kita dapat menemukan Tembaga, Emas, Kuarsa, dan juga Timah di area ini.

  • Hipotermal

Endapan hipotermal terbentuk pada wilayah yang cukup dalam, yakni 3000 – 15000 m di bawah permukaan bumi dan tekanan tinggi serta temperatur berkisar 300 – 500°C. Bijih biasanya ditemukan pada endapan hipotermal adalah Timah, Emas, Tembaga, dan Turmalin. 

5. Proses Replacement (Metasomatic replacement)

Proses penggantian suatu mineral atau lebih menjadi mineral-mineral baru yang lain diakibatkan adanya agen pembawa mineral yang berupa gas, uap, air panas pada suhu rendah dengan mineralisasi komponen sederhana. Bentuk endapan replacement disebut replacement vein. Proses ini umumnya berkaitan juga dengan proses hidrotermal karena berkaitan dengan air panas sebagai salah satu agennya. Contoh bijih yang dapat terbentuk melalui proses ini adalah Emas.

6. Proses Metamorfisme

Proses perubahan dalam mineralogi atau tekstur yang terjadi pada batuan akibat peningkatan tekanan dan/atau suhu. Contoh bijih yang terbentuk dari proses ini adalah Intan, Jade (Giok), Ruby, Sapphire.

 

Selain proses internal, terdapat juga proses eksternal, yakni proses pembentukan mineral pada permukaan bumi yang diakibatkan oleh adanya gaya eksogen. Proses-proses tersebut antara lain:

1. Proses Mechanical Accumulation

Proses Mechanical Accumulation adalah proses pengayaan bijih yang berasal dari butiran-butiran mineral yang terpecah akibat proses erosi dan pelapukan batuan oleh tenaga eksogen seperti air dan angin. Mineral-mineral berat yang resisten terhadap erosi dan pelapukan selanjutnya akan tertransport, terakumulasi, dan terendapkan di suatu area yang rendah. Endapan mineral tersebut biasa dikenal dengan placer deposit. Contoh bijih yang bisa didapatkan di endapan ini adalah Emas, Platina, Timah, Titanium, Intan, Corundum, Rutile, Zircon, Andalusite, Tourmaline, Kyanite, Garnet, Topaz, dan Beryl. 

2. Proses Sedimentary Precipitates

Mineral dan bijih akan terbentuk melalui proses pengendapan unsur-unsur tertentu dan biasanya akan terendapkan pada lingkungan sedimen yang sesuai, dengan atau tanpa proses penguraian organisme. Contoh bijih yang bisa ditemukan di area ini adalah Mangan, Besi, Jasper, Opal, Rhodochrosite, Lazulite, Apatite, dan Turquoise. 

3. Residual Processes 

Dalam proses ini, mineral dan unsur pada batuan yang tidak mudah larut (immobile) dalam proses pelindian (leaching) oleh air akan tetap berada di batuan asalnya. Sedangkan, mineral dan unsur yang lebih mudah larut (mobile) akan terendapkan pada kedalaman tertentu. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Nikel, Litium, Bauksit, Corundum, dan Garnet.

4. Proses Secondary or Supergene Enrichment 

Pelindian (leaching) unsur-unsur tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian terendapkan pada kedalaman tertentu menghasilkan endapan bijih dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Quartz, Tembaga, Timbal, Besi, Seng, Emas dan Perak.

5. Proses Volcanic Exhalative or Sedimentary Exhalative

Proses pembentukan mineralnya melalui pelepasan gas dan uap panas dari gunung berapi. Pada proses Volcanic Exhalative, gas dan uap panas yang keluar dari gunung berapi akan bercampur dengan air laut atau air meteorik (air hujan). Campuran ini kemudian mendingin dan terendapkan sehingga akan membentuk mineral di permukaan bumi. Sementara itu, pada proses Sedimentary Exhalative, bijih yang terendapkan terbentuk ketika mineral yang berasal dari proses Volcanic Exhalative terkubur dan mengalami perubahan proses geologi seperti metamorfisme. Contoh bijih yang dapat terbentuk akibat proses ini adalah Perak, Emas, Merkuri, Besi, Seng, Timbal, dan Tembaga.

 

Proses Organik (Biologis)

Proses organik adalah proses pembentukan batu mulia yang melibatkan makhluk hidup. Proses-proses tersebut antara lain.

  1. Proses fosilisasi organisme yang terperangkap dalam resin atau getah pohon konifer pada periode awal Tersier (sekitar 70 juta tahun atau lebih). Kemudian, resin mengeras melalui proses polimerisasi, dimana molekul kecil (monomer) bergabung secara kimia untuk menghasilkan jaringan molekul yang besar. Contohnya fosil serangga yang terperangkap di dalam resin, kerangka kitinnya sedikit berubah, tetapi jaringan lunak bagian dalam hilang. Proses pengerasan resin akan membentuk kopal. Selanjutnya, kopal (copal) akan terendapkan selama berjuta tahun di bawah permukaan bersamaan tumbuhan konifer atau tidak bersamaan tumbuhan konifer. Proses tersebut akan membentuk batu mulia Ambar (Amber) yang resisten/kuat.
  2. Proses pengendapan lapisan-lapisan kalsium karbonatan di sekitar partikel (butiran pasir, makanan, parasit) yang tersangkut di cangkang moluska. Batu mulia yang dihasilkan dari proses ini adalah Mutiara.
  3. Proses pembentukan dentin yang berasal dari sel odontoblas yang melapisi rongga gigi mamalia tertentu. Dentin adalah jaringan ikat yang termineralisasi dengan matriks organik protein kolagen dan akan membentuk gigi ataupun gading pada mamalia. Batu mulia yang terbentuk dari proses ini adalah Ivory.

 

Sumber:

Adiri, Z., Lhissou, R., Harti, A. E., Jellouli, A., & Chakouri, M. (2020). Recent advances in the use of public domain satellite imagery for mineral exploration: A review of Landsat-8 and Sentinel-2 applications. Ore Geology Reviews, 103332. doi:10.1016/j.oregeorev.2020.103332

Bateman, A.M. & Jensen, M.L., 1981. Economic Deposits, John Wiley & Sons, Inc, Canada

Dill, H. G. (2018). Gems and placers—A genetic relationship par excellence. Minerals, 8(10), 470.

Espinoza, E. O., & Mann, M. J. (1992). Identification guide for ivory and ivory substitutes.

Evans, A. M. 1997. An Introduction to Economic Geology and Its Environmental Impact. Blackwell. Blackwell Science Ltd, London, USA, and Australia, 364h.

Evans, A. M. (2009). Ore geology and industrial minerals: an introduction. John Wiley & Sons.Prinz, M.,Harlow, G., Peters, J.1988. Rocks and Minerals. Simon & Schuster Inc. New York

Garnett, Richard & Bassett, N.C.. (2005). Placer deposits. Econ Geol 100th Anniv Vol. 813-843.

Gemological Institute of America: All about gemstones. GIA. (n.d.). https://www.gia.edu/

Hedenquist, J.W. and Henely, R.W. (1985) Hydrothermal Eruption in the Waitapu Geothermal System, New Zealand: Their Origin, Associated Breccias, and Relation to Precious Metal Mineralization. Economic Geology, 80, 1640-1668.

Matthews, T. (2022, May 3). Ivory gem guide and properties chart. Gemstones. https://www.gemstones.com/gemopedia/ivory

Pearl gemstone overview. American Gem Society. (2023, October 5). https://www.americangemsociety.org/birthstones/june-birthstones/pearl-overview/


Artikel Lainnya


Eksploitasi Logam Mulia dan Batu Mulia

Eksploitasi tambang adalah proses pengambilan sumber daya mineral dari bumi, seperti batu mulia dan logam mulia dengan tujuan komersial. Proses ini melibatkan penggalian, pengolahan awal, dan pemurnian bahan mentah sebelum diolah lebih lanjut untuk kebutuhan industri, pembuatan perhiasan, maupun kegiatan lainnya.  Eksploitasi tambang seringkali melibatkan penggunaan teknologi dan peralatan serta metode yang canggih, tetapi tidak jarang juga eksploitasi ini dilakukan menggunakan metode dan alat yang konvensional oleh masyarakat setempat. Pada minggu ini kita akan membahas kedua metode eksploitasi tersebut. Yuk, disimak lebih lanjut!   Tambang Konvensional   Tambang konvensional mengacu pada metode penambangan yang telah lama digunakan dan umumnya menerapkan teknik dan proses yang tradisional  dan sederhana. Ini termasuk teknik penambangan seperti tambang terbuka dan tambang bawah tanah yang menggunakan peralatan dan teknologi yang sudah ada dan terbukti efektif. Tambang konvensional mengikuti cara kerja yang telah digunakan dalam industri pertambangan selama bertahun-tahun.  Sistem ini telah ada sejak abad ke-19 dan belum mengalami banyak perkembangan modern. Ciri-ciri tambang konvensional antara lain penggunaan peralatan yang kurang efisien, kinerja yang belum maksimal, risiko kecelakaan yang tinggi, konsumsi bahan bakar yang boros, pemulihan penambangan yang tidak optimal, biaya yang tinggi, dan belum ramah lingkungan.   Contoh tambang konvensional yang dapat kita temukan antara lain:   Tambang berlian placer Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru Bagi yang tidak asing dengan berlian yang dijual di Martapura, berlian tersebut umumnya berasal dari tanah intan di Desa Wisata Pumpung, Kota Banjarbaru. Masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan menambang berlian melalui metode pendulangan tradisional.   Tambang emas rakyat bawah tanah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri   Dari yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak sekali potensi mineral logam mulia, khususnya emas. Salah satunya yang terdapat di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, sumber daya emas tersebut dimanfaatkan oleh warga setempat dengan membuat lubang tambang tradisional dengan peralatan yang masih sangat sederhana.    Selain dengan metode konvensional yang masih sangat sederhana terdapat juga tambang batu mulia dan logam mulia yang menggunakan metode inisiatif yang modern.     Tambang Inisiatif (Inovatif)   Tambang inovatif atau inisiatif merupakan pendekatan yang lebih modern dalam industri pertambangan, fokusnya adalah pada pengembangan dan implementasi teknologi, proses, dan praktik baru. Ini bisa mencakup penggunaan teknologi canggih seperti penambangan otomatis, pemetaan tambang dengan drone, atau pemantauan lingkungan dengan sensor teknologi tinggi. Tujuan dari tambang inisiatif adalah meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan keselamatan kerja. Proses perbaikan terus menerus dilakukan untuk menciptakan sistem pertambangan yang lebih efisien dan efektif. Tambang inisiatif menunjukkan perbedaan yang signifikan terutama dalam hal efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan tambang. Ini seringkali disebut sebagai kemajuan tambang inisiatif. Beberapa ciri tambang inisiatif meliputi: Kolaborasi antara manusia dan teknologi. Sistem manajemen pengawasan yang lebih terintegrasi. Penggunaan sensor yang terintegrasi dan akurat pada setiap tahapan kegiatan. Penggunaan perangkat terkini dan teknologi otomatisasi.   Contoh tambang inisiatif yaitu:   Tambang Grasberg di Kabupaten Mimika, Papua Tengah oleh PT Freeport Indonesia Penambangan bijih di PT Freeport Indonesia (PTFI) meliputi kegiatan pengeboran dan peledakan, pengisian dan pengangkutan muatan, serta penghancuran. Setiap tahapan tersebut dilakukan menggunakan peralatan dan metode yang sudah modern dan memperhatikan keselamatan kerja. Tambang PT Freeport Indonesia memiliki 2 jenis tambang, yaitu open pit dan closed pit.  Proses eksploitasi di dalam PTFI dilakukan dengan cara modern menggunakan komputer dan pengendalian mesin (pengangkutan, pengeboran, dll) dengan jarak jauh seperti yang ada pada gambar di atas. Dalam upaya menjaga lingkungan dan memanfaatkan limbah sisa eksploitasi, PTFI melakukan program 3R (Reduce-Reuse and Recycle), contohnya: Reklamasi area pemisahan material bijih (tailing). Pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas untuk digunakan pada beberapa kendaraan ringan.  Memanfaatkan oli bekas sebagai campuran bahan bakar alternatif di Pabrik Kapur dan Pabrik Pengering Konsentrat. Daur ulang aluminium untuk dijadikan souvenir. Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Memanfaatkan abu dari unit boiler pada sarana pembangkit listrik untuk keperluan proyek infill di daerah operasi PTFI.     Sumber:     Admindisporabudpar, (2017). Visit Banjarbaru – Pendulangan intan tradisional cempaka. https://disporabudpar.banjarbarukota.go.id/pendulangan-intan-tradisional/ diakses pada 21 Mei 2024 Anonim. (n.d.). Bagaimana Kami Beroperasi. PT Freeport Indonesia.  https://ptfi.co.id/id/how-we-operate  Anonim. (2022). Kontribusi Freeport Bagi Bumi Pertiwi. PT Freeport Indonesia. https://ptfi.co.id/id/news/ Chen, Jin & Viardot, Eric & Brem, Alexander. (2019). Innovation and innovation management. 10.4324/9781315276670-1. Hoover, H. (1909). Principles of mining: valuation, organization and administration; copper, gold, lead, silver, tin and zinc (Vol. 2). Hill Publishing Company. Minir. (2021). Perbedaan tambang konvensional Dan Tambang initiative. anakteknik.co.id

Eksplorasi Logam Mulia dan Batu Mulia

Eksplorasi adalah penjelajahan lapangan yang bertujuan memperoleh informasi terkait kondisi geologi untuk menemukan dan memperkirakan keterdapatan sumber daya alam di bumi, salah satunya adalah logam mulia dan batu mulia. Eksplorasi endapan batu mulia dan logam mulia dapat dilakukan dengan metode pemetaan permukaan (pemetaan geologi), prospeksi geokimia, dan geofisika.   Eksplorasi menggunakan metode pemetaan permukaan Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan karakteristik batu mulia dan logam mulia di suatu daerah penelitian serta memetakan geologi regional yang terkait. Pemetaan geologi merupakan proses yang kompleks dan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan representasi visual yang akurat dari formasi geologi di suatu daerah tertentu. Salah satu teknik yang digunakan dalam pemetaan geologi adalah dengan membuat lintasan geologi. Lintasan ini dirancang untuk mencatat dan memetakan lokasi-lokasi penting seperti singkapan batu mulia ataupun logam mulia dan gejala-gejala geologi lainnya dengan presisi tinggi.  Biasanya, lintasan geologi dibuat secara sistematis, seringkali tegak lurus atau memotong arah umum dari struktur geologi batuan. Tim lapangan akan mengumpulkan data geologi melalui pengukuran dan observasi langsung di lapangan. Data-data ini kemudian diolah menggunakan metode pemetaan geologi yang terspesialisasi, dan hasilnya dipetakan ke dalam peta dasar.  Proses pengolahan data melibatkan korelasi dari masing-masing titik pengamatan berdasarkan kesamaan litologi. Ini berarti bahwa batuan yang ditemukan di berbagai titik akan dianalisis untuk menentukan karakteristik litologinya. Dengan cara ini, informasi yang dikumpulkan dari lapangan dapat digunakan untuk menghasilkan peta geologi yang lebih mendalam dan berbasis pada distribusi batu mulia ataupun logam mulia dan struktur geologi lainnya di daerah tersebut.   Eksplorasi menggunakan metode geokimia Metode geokimia dapat diaplikasikan ke dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia dengan pengambilan serta pengujian sampel tanah dan batuan dari lapangan daerah penelitian. Terdapat beberapa metode geokimia yang bisa kita aplikasikan, antara lain: 1. Stream Sediment Sampling  Metode ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel sedimen pada sungai atau aliran air lainnya untuk mengidentifikasi keberadaan kumpulan mineral maupun bijih logam yang telah ter-transport dari batuan asal.  2. Soil Sampling  Proses pengumpulan sampel dari tanah untuk menentukan susunan mineral dan menyimpulkan potensi mineralisasi pada batuan dasar yang ada di bawah permukaan dimana batuan dasar ditutupi oleh tanah. Metode pengambilan sampel tanah menggunakan alat bor auger dan sekop untuk mengumpulkan sampel dalam pola sistematis.  3. Metode Analisis Micro X-ray Fluorescence (µXRF) Metode yang dilakukan untuk mengetahui sebaran dan kelimpahan unsur dalam sampel batuan atau tanah dalam keadaan vakum yang kemudian dapat diketahui nama mineralnya berdasarkan karakteristik ikatan kimianya. Metode ini dapat digunakan untuk mengecek mineral khas dalam sedimen (contohnya chromium-pyrope, chromium-diopside, magnesium-ilmenite, dan olivine) yang berasosiasi dengan batuan asal batu mulia. 4. Metode Analisis X-ray Fluorescence (XRF)  Teknik analisis yang memanfaatkan emisi karakteristik sinar-X untuk menentukan komposisi unsur-unsur kimia pada sample batuan. Dalam metode ini, sample akan dipreparasi terlebih dahulu agar dapat dianalisis seperti harus dihancurkan dan ditumbuhkan hingga menjadi berbutir halus. Jika memperoleh hasil kandungan Na lebih tinggi daripada Li, K, Be, Mo pada batuan yang belum terubah, maka menunjukan keberadaan mineralisasi emerald.     Eksplorasi menggunakan metode geofisika Metode geofisika penting dilakukan dalam eksplorasi batu mulia dan logam mulia, karena dengan metode ini akan memberikan gambaran terkait keadaan geologi serta persebaran batu mulia dan logam mulia jauh di bawah permukaan bumi. Terdapat beberapa metode geofisika yang bisa kita aplikasikan, antara lain: 1. Gravity Survey  Metode yang memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk memetakan kepadatan bawah permukaan. Batu mulia memiliki kepadatan/berat jenis yang berbeda dengan batuan sekitarnya sehingga tingkat gravitasinya pun berbeda juga dan menghasilkan persebaran perbedaan tingkat kepadatan/berat jenis serta struktur bawah permukaan. 2. Magnetic Survey  Pengukuran medan magnet Bumi di atas tanah atau di udara untuk mendeteksi kekuatan magnetik yang terkait dengan batuan dan mineral. Dimana yang dapat kita ketahui beberapa batu mulia berasosiasi dengan mineral logam sehingga dapat mengetahui persebaran tingkat magnetisme. 3. Electrical Survey  Pengukuran sifat konduktivitas listrik batuan dan mineral. Batu mulia tertentu memiliki konduktivitas listrik yang berbeda dari batuan sekitarnya, sehingga metode ini dapat menghasilkan data aliran fluida atau keberadaan mineral logam yang dapat menghantarkan listrik. 4. Seismic Reflection Profiling Survey  Memanfaatkan gelombang seismik yang dipancarkan ke bawah permukaan bumi dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan batas lapisan batuan atau fenomena struktur dengan impedansi akustik yang berbeda. Waktu tempuh dan lokasi pantulan gelombang seismik diukur dan dianalisis untuk menentukan fitur geologi bawah permukaan. 5. Ground Penetrating Radar Survey  Menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi untuk menyelidiki struktur bawah permukaan. Gelombang radar ditembakkan ke bawah permukaan dan dipantulkan kembali jika bertemu dengan lapisan batuan dengan konduktivitas listrik yang berbeda. Jarak pemancaran sinyal radar bergantung pada sifat serap batuan yang dilaluinya. Semakin tinggi konduktif listrik suatu material, semakin besar pula penyerapan sinyal radar. Ketika sinyal radar mengenai batas antara bahan non konduktif dan konduktif, maka energi elektromagnetik dapat dipantulkan.   Contoh eksplorasi batu mulia berlian (diamond) Dalam mengeksplorasi keterdapatan berlian kita harus mengetahui keberadaan batuan kimberlite dan lamproite pada litosfer yang lebih tebal daripada biasanya. Keterdapatan endapan berlian dapat terbentuk pada batuan dari ikatan karbon dengan tekanan yang setara pada kedalaman 150–200 km sehingga memiliki kompaksi yang lebih tinggi. Karena batuan di bagian mantel litosfer (di bawah kerak bumi, di atas astenosfer) biasanya lebih padat dan kaku maka gelombang seismik dapat cepat merambat dibandingkan batuan di dekatnya yang berada di astenosfer (bersifat cair). Daerah dengan kepadatan tinggi diinterpretasikan sebagai akar litosfer. Setelah akar litosfer ditemukan, data magnetik dan listrik dengan resolusi lebih tinggi memungkinkan dapat mengidentifikasi anomali yang terkait dengan batuan kimberlite dan lamproite. Kimberlite dan lamproite memiliki konsentrasi besi dan magnesium yang tinggi daripada batuan sekitarnya, sehingga seringkali bersifat lebih magnetis dan lebih konduktif dibandingkan batuan yang di sekitarnya. Oleh karena itu, untuk mencari karakteristik tersebut dapat dideteksi dengan metode seismic-wave velocity, gravity dan electrical survey.   Sumber: Ahmadi, O., Juhlin, C., Ask, M., & Lund, B. (2015, June 3). Revealing the deeper structure of the end-glacial pärvie fault system in northern Sweden by seismic reflection profiling. Solid Earth. https://doi.org/10.5194/se-6-621-2015 Annual Kīlauea Gravity Survey | U.S. Geological Survey. (2024). https://www.usgs.gov/media/images/march-25-2024-annual-kilauea-gravity-survey-2 Cook, F. A. (n.d.). Applications of geophysics in gemstone exploration. Gems & Gemology. https://www.gia.edu/gems-gemology/spring-1997-geology-techniques-cook Falah, Muh & Tabbu, Muhammad. (2023). EKSPLORASI BATU MULIA DENGAN METODE PEMETAAN GEOLOGI DAERAH TUWUNG BARRU. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Geography. 8-17. 10.61220/ijfag.v1i1.202302.  Fletcher, W. K., et al. (1986). DESIGN AND INTERPRETATION OF SOIL SURVEYS. Exploration Geochemistry, 39–77. https://doi.org/10.5382/rev.03.03 Groat, L. A., & Laurs, B. M. (2009). Gem Formation, production, and exploration: Why gem deposits are rare and what is being done to find them. Elements, 5(3), 153–158. https://doi.org/10.2113/gselements.5.3.153 Ground penetrating radar surveys. Orsco (Pty) Ltd. (2024, January 16). https://orsco.co.za/ground-penetrating-radar-surveys/ Inc, S. by O. C. (2021, May 3). Methods - electrical resistivity: GeoScan: British Columbia. GeoScan. https://www.geoscan.ca/methods/electrical-resistance/ Rock characterization for mineral exploration. Bruker. (n.d.). https://www.bruker.com/en/applications/minerals-mining-and-petrochemical/minerals-exploration-discovery/rock-characterization-for-mineral-exploration.html Soil sampling near a uranium mine site in Arizona. Soil sampling near a uranium mine site in Arizona | U.S. Geological Survey. (2016). https://www.usgs.gov/media/images/soil-sampling-near-uranium-mine-site-arizona-0 Stream sediments. (n.d.). https://www.gsi.ie/en-ie/programmes-and-projects/minerals/activities/mineral-exploration/Pages/Stream-Sediments.aspx X-ray fluorescence spectrometry (XRF). X-ray Fluorescence Spectrometry (XRF) | School of Earth Sciences. (n.d.). https://earthsciences.osu.edu/about/facilities/equipment/xrf